Dalam waktu singkat, seluruh negeri Syam telah menjadi benih-benih lebah yang menyadari potensi yang di miliki. Andai saja Abu Dzar mengomandoi mereka untuk memberontak, pastilah api pemberontakan segera berkobar.
BAB XIV
Namun, Abu Dzar, sebagaimana telah kami katakan, tujuannya hanyalah terbatas untuk membentuk suatu opini publik yang mesti di hargai. Dan supaya kata-katanya menjadi buah bibir di majelis-majelis pertemuan, di masjid-masjid, dan di jalan-jalan.
Ancaman dari Abu Dzar terhadap hak istimewa yang sedang tumbuh itu tampak ketika berdebat dengan Mu’awiyah di depan orang banyak. Orang yang hadir menceritakan kisah perdebatan itu kepada yang tidak hadir hingga tersiar begitu cepat ibarat terbang di bawa angin. Abu Dzar tampil sebagai orang yang paling kuat hujahnya sebagaimana yang telah di gambarkan oleh sang Nabi sebagai gurunya.
Tanpa rasa takut dan ragu, Abu Dzar bertanya kepada Mu’awiyah tentang kekayaannya sebelum dan sesudah menjadi penguasa. Ia juga menanyakan tentang rumahnya yang ia tinggali sewaktu di Mekah dulu dan istananya di Syam saat ini. Setelah itu, Abu Dzar alihkan pertanyaannya kepada para sahabat di sekelilingnya. Pada saat itu ikut menemani Mu’awiyah pergi ke Syam dan sebagian dari mereka telah memiliki istana dan perkebunan yang luas.
Abu Dzar beseru kepada mereka semua yang hadir. “Bukankah kalian adalah orang-orang yang ketika al-Qur’an di turunkan kepada Rasulullah, beliau berada bersama mereka?. ” Kabarnya, Abu Dzar sendirilah yang memberikan jawabannya kepada mereka. “Benar, kalianlah orang-orang yang menjadi saksi saat di turunkannya ayat al-Qur’an dan menyaksikan banyak peristiwa bersama Rasulullah.” Selanjutnya, Abu Dzar kembali bertanya, “Apakah dalam al-Qur’an kalian tidak menemukan ayat berikut
… وَالَّذِينَ يَكْبَرُونَ الذَّهَبَ وَالْفِطَة وَلَا يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَيَّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتَكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَذَا مَا كَنَرْتُمْ لأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنتُمْ تَكْبَرُونَ )
“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. (Ingatlah) pada hari ketika emas dan perak itu di panaskan dalam neraka Jahannam lalu dengannya di setrika dahi, lambung, dan punggung mereka (serarya di katakan) kepada mereka: Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu (QS. At-Taubah: 34-35)
