ABU DZAR AL-GHIFARI (2)

BAB X

Jejak kejayaan pribadi hampir menimbulkan fitnah pada mereka yang seluruh hidupnya adalah untuk meluhurkan bendera Allah. Dunia dengan segala kebatilan dan kepalsuan tipu muslihatnya yang memesona. Hampir menimbulkan fitnah terhadap orang-orang yang mengemban risalah untuk mempergunakannya sebagai ladang menuai amal shaleh.

Harta benda yang di ciptakan Allah sebagai pelayan dan seharusnya tunduk kepada manusia. Justru cenderung berubah menjadi tuan yang memperbudak manusia. Ujian ini telah menimpa sebagian sahabat Muhammad yang beliau sendiri ketika wafat. Baju besinya sedang di gadaikan, padahal tumpukan jizyah dan ghanimah berada di bawah telapak kaki beliau.

Kekayaan bumi yang di ciptakan oleh Allah untuk seluruh manusia dengan memberikan hak yang sama kepada mereka atas kekayaan itu. Hampir berubah menjadi barang timbunan dan hak istimewa bagi mereka yang terbuai dalam kemewahan. Jabatan yang merupakan amanah untuk dipertanggungjawabkan nantinya di akhirat. Di hadapan pengadilan Allah berubah menjadi jalan untuk merebut kekuasaan, kekayaan, dan kemewahan yang merusak.

ABU DZAR AL-GHIFARI melihat semua kejanggalan itu. Ia tak perlu mencari siapa yang menanggung kewajiban itu, tetapi segera menghunus pedang, mengacungkannya ke udara. Ia pun bangkit untuk menghadap masyarakat yang telah menyimpang dari ajaran Islam dengan pedangnya yang tidak pernah salah itu. Akan tetapi, taklama kemudian, ia teringat pada pesan yang di wasiatkan oleh Rasulullah. Ia kembalikan pedang itu ke dalam sarungnya karena tak seyogianya ia mengacungkannya ke hadapan seorang muslim. Allah berfirman.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أن يقتل مُؤْمِنًا إلا خطف… )

“Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja).” (QS. An-Nisa’: 92)

Kini tugasnya bukanlah lagi untuk membunuh, melainkan untuk mencegah. Alatnya untuk mengubah dan meluruskan kemungkaran bukan lagi menggunakan pedang, melainkan dengan kata-kata benar, tegas, dan amanah. Kata-kata adil yang tak pernah tersesat jalan dan tak mengenal takut pada akibatnya.

139 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *