ABU DZAR AL-GHIFARI (2)

BAB XIII

Benar, di sanalah harta benda, istana, dan kekayaan melimpah kini telah menggoda para pengemban dakwah yang masih tersisa. Karena itu, Abu Dzar harus segera mengatasinya sebelum bahaya itu berlarut-larut hingga dapat membinasakan dan menghancurkannya.

Pemimpin gerakan hidup sederhana yang menentang segala macam kemewahan hidup ini segera menyingsingkan lengan baju dan secepatnya berangkat menuju Syam. Begitu masyarakat mendengar kedatangan Abu Dzar, mereka menyambutnya dengan sangat antusias dan penuh kerinduan. Mereka selalu mengerumuni Abu Dzar ke mana pun ia pergi dan berjalan. “Berceritalah, wahai Abu Dzar! Berceritalah kepada kami, wahai sahabat Rasulullah!” pinta mereka.

ABU DZAR AL-GHIFARI melepaskan pandangan penuh selidik ke arah orang-orang yang bekerumun. Ia bisa melihat bahwa sebagian besar dari mereka adalah orang-orang melarat dan miskin. Selanjutnya, pandangannya beralih ke arah dataran-dataran tinggi yang letaknya tidak jauh dari tempatnya. Tampak olehnya istana-istana dan mahligai yang luas. Ia pun berkata kepada orang-orang yang berkumpul di sekitarnya, “Aku heran kepada orang yang tidak mendapat makanan di rumahnya. Mengapa ia tidak mendatangi orang-orang itu dengan menghunus pedang?”

Namun, saat itu ia teringat akan pesan Rasulullah agar menukar revolusi dengan kesabaran dan menukar pedang dengan kata-kata yang berani. Ia pun meninggalkan bahasa-bahasa perang dan kembali pada bahasa logika dan persuasif.

ABU DZAR AL-GHIFARI mengajarkan kepada orang-orang bahwa mereka semua adalah sama dan sederajat. Dengan kata lain, sesungguhnya mereka semua berserikat dalam hal rezeki. Sehingga tidak ada kelebihan antara satu orang dan orang lain, kecuali berdasarkan ketakwaan. Pemimpin dan penguasa suatu kaum adalah orang yang pertama kali menderita lapar. Jika rakyatnya kelaparan dan orang terakhir yang merasakan kenyang setelah mereka kenyang.

Dengan kata-kata dan keberaniannya, Abu Dzar berhasil menciptakan opini publik di seluruh negeri Islam. Agar kecerdasan, kebenaran, dan kekuatannya menjadi suatu tabiat bagi para penguasa dan kaum hartawan. Serta dapat menutup kemungkinan lahirnya suatu kelompok yang menyalahgunakan kekuasaan atau menumpuk kekayaan.

139 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *