BAB XII
Andai sang tokoh revolusioner yang mulia ini hendak membuat bendera, khusus bagi diri pribadi dan gerakannya. Maka slogan yang terukir pada bendera tersebut tiada lain adalah sebuah setrika dengan baranya yang merah menyala. Pasalnya, semboyan yang selalu ia ucapkan di segala tempat dan waktu hingga di ingat oleh umat laksana lagu perjuangan.
“Berilah kabar gembira kepada para penimbun harta, yaitu mereka yang menumpuk emas dan perak, dengan setrika-setrika dari api neraka. Yang di gunakan untuk menyetrika kening dan lambung mereka pada hari Kiamat kelak!”
ABU DZAR AL-GHIFARI tak pernah naik ke gunung, menuruni daratan, memasuki suatu kota, dan menghadapi seorang penguasa, tanpa mengucapkan kalimat tersebut. Begitu juga setiap kali melihat Abu Dzar datang berkunjung, masyarakat pasti menyambutnya dengan kalimat. “Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang menumpuk harta dengan setrika-setrika dari api neraka!”
Kalimat di atas telah menjelma menjadi tanda pengenal bagi misi Abu Dzar yang untuk itu telah ia persembahkan seluruh hidupnya. Kalimat itu senantiasa bergema ketika ia melihat kekayaan berkumpul dan tertimbun. Ketika jabatan di salahgunakan untuk meraup keuntungan dan mengeksploitasi kekayaan dan ketika cinta dunia merajalela. Hingga hampir menghancurkan segala yang telah di bangun pada masa-masa kerasulan, seperti kesungguhan, ke-wara-an, kesalehan, dan keikhlasan.
ABU DZAR AL-GHIFARI mengawali perjalanan dari benteng yang paling berkuasa dan paling di segani, yaitu di Syam. Tempat Mu’awiyah bin Abu Sufyan memerintah wilayah Islam yang paling subur, paling baik hasil buminya, dan paling banyak memberikan kharaj-nya. Mu’awiyah telah membagi-bagikan kekayaan tanpa batas dan perhitungan. Dengan maksud untuk mendapat dukungan orang yang berkedudukan, dan demi terjaminnya masa depan yang di cita-citakannya.
