Dengan penasaran, orang yang berpakaian kuning itu mengeluarkan seluruh kekuatannya untuk menancapkan mata pedangnya ke jantung gadis itu, namun mendadak tanganya menjadi lemah lunglai orang itu mundur mengurungkan niatnya sambil menatap orang-orang sekelilingnya.
Semua orang di buatnya tertegun melihat kejadian yang menakjubkan itu. Sementara mata orang yang berpakaian kuning itu tertuju pada Syech Maulana Malik Ibrahim dan murid-muridnya yang berdiri di belakang kerumunan orang-orang. Lalu berkata dengan lantang, “Kau yang menghalangi jalannya upacara persembahan ini, mau apa kamu menghalanginya?”. Syeh Maulana malik Ibrahim bersama muridnya maju di kerumunan seraya berkata, “Maaf kisanak, kalau boleh tahu untuk apa gadis itu di korbankan?”.
Nyawa Yang Sia Sia
“Gadis ini di korbankan untuk persembahan Dewa Hujan, agar musim kemarau yang panjang ini cepat berakhir dan segera turun hujan membasahi bumi kami yang kering ini”. Sahut orang yang berpakaian kuning itu dengan tegas. “Sudah berapa banyak yang menjadi korban Dewa hujan?” Tanya kakek Bantal “Sudah dua kali”. Jawab orang gitu. “Jadi sudah dua nyawa melayang sia-sia”, ujar Syeh Maulana Malik Ibrahim dengan tenang.
“Pengorbanan itu tidak sia-sia, karena pengorbanan tidak akan di lupakan sepanjang masa oleh penduduk desa ini”. jawab orang yang berpakaian kuning itu. “Apakah dengan pengorbanan itu, hujan pernah turun? Syeh Maulana Malik Ibrahim bertanya . Dan orang-orang serta pria berbaju kuning serentak menjawab . “belum…!
Mendengar jawaban orang-orang, maka wajah orang yang berpakaian kuning tadi menjadi merah. Dan ia berkata, “Memang hujan belum turun, sebab pengorbanan baru di lakukan dua kali. Oleh Dewa hujan pengorbanan akan sudah lengkap bila di lakukan sekali lagi”. “Bagaimana jika pengorbanan di lakukan sekali lagi akan tetapi hujan belum juga turun?” tanya Syeh Maulana Malik Ibrahim”.
Mendengar pertanyaan Syeh, wajah orang itu semakin beringas. Dia memberi isyarat kepada dua orang lelaki bertubuh kekar sebagai pengikut setia itu. Mereka bergerak hendak menyerang Syeh, tetapi secara tiba-tiba kaki mereka terasa amat berat untuk melangkah, bahkan keduanya merasa kesakitan dengan memegangi pahanya masing-masing. Melihat anak buahnya tidak bisa bertindak dan merintih kesakitan, orang itu berkata dengan lantang: “Kau bermaksud untuk menantang kami hai pengacau?”
Bukan Pengacau
Syeh Maulana Malik Ibrahim bersama murid-muridnya berkata, “Kami datang kemari bukan sebagai pengacau, melainkan kami hendak membantu kalian semua”. Dengan pongahnya orang itu berkata, ” Apa yang hendak kau berikan kepada kami yang sedang di landa kelaparan ini”.Syech Maulana Malik Ibrahim berkata, “Apa yang kamu inginkan? Hujan….kami hanya minta hujan, Serempak orang-orang yang berada di sekelilingnya menjawab.

Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me?