Beberapa saat lamanya, permainan yang di sebut “Ujung” itu di hentikan. Sementara kedua orang yang berlaga itu lemah lunglai terkapar di atas tanah dengan punggung babak belur kulit terkelupas bersimbah darah. Pada saat itulah muncul seorang berpakaian kuning bagai pendeta maju ke depan. Orang itu bertampang menyeramkan sambil membawa tongkat sepertinya ketua dari perkumpulan permainan ujung itu.
Permainan Ujung
Dengan suara lantang, orang tersebut memerintahkan agar kedua orang yang berlaga itu di seret keluar. Kemudian muncullah dua orag laki-laki kekar untuk menyeret kedua orang yang berlaga itu keluar permainan, Setelah itu, orang yang berpakaian kuning itu berseru “Bawa kemari cepat gadis itu!”
Seorang gadis dengan berpakaian serba putih, usia sekitar belasan tahun di datangkan ke tengah lingkaran dengan di cekal oleh dua orang yang bertubuh kekar tadi untuk di telentangkan di atas bongkahan batu besar itu, Dan tak ayal lagi gadis itu meronta-ronta hendak melapaskan diri, namun sia-sia belaka melepaskan himpitan laki-laki kekar itu.
Dalam pada itu Syeh Maulana Malik Ibrahim tertegun menyaksikan kejadian itu. Beliau dan murid-muridnya memperhatikan kejadian selanjutnya terhadap gadis yang di telantangkan. Kemudian orang yang berpakaian kuning dengan suara lantang berseru kembali mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi; “Wahai Dewa hujan terimalah persembahan kami ini, curahkanlah hujan buat kami dan hentikan kemarau panjang.
Demikian teriak orang yang berpakaian kuning itu berkali-kali. Kemudian orang itu mendekati gadis itu seraya berkata: “Hai gadis suci, hari ini aku akan menyerahkan diri mu kepada Dewa hujan.” Pengorbananmu tidak sia-sia, bahkan menjadi kenangan bagi seluruh penduduk desa ini.
Persembahan Dewa Hujan
Dengan nada cemas dan tubuh gemetar, gadis itu berkata, “Jangan, aku tidak mau di jadikan persembahan kepada Dewa Hujan”. Diam! Bentak lelaki kekar itu. Kemudian dia berseru, “ayo kita mulai”. Sambil membuang tongkatnya orang itu menghunus pedang yang terselip di pinggangnya sementara kedua lelaki kekar itu memegangi gadis itu erat-erat yang kini mulai meronta-ronta.
Dengan mengacugkan pedang tinggi-tinggi, yang kemudian di arahkan pada jantung anak gadis itu, tiba-tiba ada suara seruan “Tunggu…! Namun oleh orang yang berpakaian kuning itu tidak di hiraukannya, dan ketika ujung pedang itu hampir menyentuh kulit gadis itu, tiba -tiba ada kekuatan dahsyat yang tak tampak oleh mata menahan.

Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me?