Pendirian pondok pesantren untuk pertama kali di Nusantara di ilhami oleh kebiasaan masyarakat Hindu. Yaitu ketika para Biksu dan Pendeta Brahmana mendidik cantrik dan calon pemuka agama di mandala-mandala mereka. Ini merupan salah satu strategi para wali yang sangat jitu. Pemuka agama Budha dan Hindu yang mendirikan mandala-mandala tidak di musuhi secara frontal. Melainkan beliau mangadopsinya untuk mendirikan pesantren yang mirip dengan mandala-mandala kelompok Hindu dan Budha tersebut untuk menjaring umat. Dan ternyata hasilnya sangat memuaskan, kemudian dari pesantren Gresik muncul banyak mubaligh yang menyebar ke seluruh Nusantara.
Tradisi Pesantren
Tradisi pesantren tersebut berlangsung hingga di jaman sekarang. Di mana para ulama besar mendidik calon mubaligh di pesantren yang di asuhnya. Bila orang menanyakan suatu masalah agama kepada beliau maka beliau tidak menjawab dengan berbelit-belit melainkan menjawabnya dengan mudah dan sesuai dengan pesan Nabi yang mengemukakan agama di siarkan dengan mudah, tidak di persulit, perasaan umat harus di buat gembira, dan tidak di takut-takuti
Pada suatu hari Syekh Maulana Malik Ibrahim di tanya tentang Apakah yang di namakan Allah itu? Beliau tidak menjawab bahwa Allah itu adalah Tuhan yang memberikan pahala surga kepada hambaNya yang berbakti dan menyiksa sepedih-pedihnya bagi hamba yang membangkang kepadaNya. Jawabannya cukup singkat dan jelas yaitu, “Allah adalah Zat yang di perlukan adaNya.”
Selama dua tahun Syekh Maulana Malik Ibrahim berdakwah di wilayah Gresik. Beliau tidak hanya membimbing untuk mengenal dan mendalami agama Islam, tetapi juga memberikan wejangan dan ilmu agar tingkat kehidupan menjadi lebih baik. Beliau juga memiliki gagasan mengalirkan udara dari gunung untuk mengairi lahan pertanian penduduk. Dengan sistem pengairan yang lebih baik ini lahan pertanian menjadi subur dan hasil panen menjasi berlimpah.Para petani menjadi lebih makmur dan mereka dapat menjalankan ibadah dengan tenang
3. Kekeramatan Syeh Maulana Malik Ibrahim
Syeh Maulana Malik Ibrahim oleh penduduk setempat yang dipanggil sebagai Kekek Bantal. Di mana menurut cerita, bahwa Syeh Maulana Malik Ibrahim setiap mengadakan pengajian terhadap murid-muridnya beliau. meletakkan kitab di atas bantal beliau.
Pada suatu hari, Syeh Maulana Malik Ibrahim berjalan-jalan mengelilingi desa-desa yang di landa bencana bersama murid-muridnya. Di setiap desa yang ia lalui, beliau membantu dengan memberikan sedekah kepada penduduk yang menderita. Pada suatu ketika sampailah perjalanan beliau di sebuah tanah lapang, di mana beliau ada sekelompok orang yang menyaksikan dua orang yang sedang berlaga. Kedua orang yang berlaga itu mengenakan caping pada kemaluannya.
Masing-masing membawa rotan sepanjang dua meter dan secara bergantian memukulkan rotan itu kepunggung masing-masing dengan sekeras-keranya. Akibatnya kedua punggung orang itu melepuh mengeluarkan cairan darah kehitam-hitaman, namun keduanya masih menampakkan ketegaran sembari memukulkan rotan ke punggung berkali- kali.

Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me?