Tidak Berpihak
Sementara itu, engkau tidak berpihak kepada yang melanggar untuk melawan yang adil dan tidak pula berpihak kepada yang adil untuk melawan pihak yang melanggar.” Sa’ad menjawab, “Aku tidak akan mau memerangi seseorang-yaitu Ali bin Abi Thalib-yang pernah di sabdakan oleh Rasulullah:
‘Kedudukanmu di sisiku tidak bedanya seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi sesudahku Suatu hari pada tahun 54 H, yakni ketika Sa’ad sudah berumur lebih dari delapan puluh tahun, ia berada di rumah tuanya sedang bersiap menghadapi detik-detik terakhir hidupnya untuk kembali kepada Allah.
Putra Sa’ad menceritakan saat-saat terakhir itu kepada kita sebagai berikut. “Ketika hampir wafat, kepala ayahku berada dalam pangkuanku. Aku menangis sehingga ia bertanya:
‘Mengapa kamu menangis, wahai anakku? Sesungguhnya, Allah tidak akan pernah menyiksaku dan aku adalah salah seorang penduduk surga.”
Sungguh keteguhan imannya tidak sedikit pun membuatnya lemah, bahkan dalam menghadapi guncangan dan cekaman maut sekalipun. Rasulullah telah memberinya kabar gembira dan ia adalah percaya sepenuhnya akan kebenaran Rasulullah. Jika demikian, apa yang di takutkannya lagi?
“Sesungguhnya, Allah tidak akan pernah menyiksaku dan aku adalah salah seorang penduduk surga”.
Akhir Hidup
Namun, Sa’ad ingin bertemu dengan Allah dengan membawa kenang-kenangan terindah dan berkesan, yang telah menghubungkannya dengan agama-Nya dan mempertemukannya dengan Rasul-Nya. Karena itu, Sa’ad memberi isyarat ke arah sebuah lemari yang ketika mereka buka dan keluarkan isinya, ternyata sebuah sehelai kain tua yang sudah aus dan usang.
Sa’ad meminta keluarganya untuk mengafani jasadnya dengan selendang tersebut. Ia berkata, “Dengan mengenakan kain ini, aku menghadapi orang- orang musyrik saat Perang Badar lalu aku menyimpannya sekian lama untuk keperluan hari ini.”
Benar, bahwa kain usang itu bukan lagi sekadar kain biasa. Akan tetapi, kain itu adalah bendera yang selalu berkibar di atas kehidupan panjang dan luhur yang di lalui oleh pemiliknya sebagai seorang beriman, jujur, dan pemberani.
Kini jasad salah seorang Muhajirin yang wafat paling akhir itu di pikul di atas pundak orang-orang yang membawanya menuju Madinah. Ia di bawa ke sana untuk tinggal dengan tenang di sisi tokoh-tokoh suci dan agung di antara para sahabat yang telah lebih dahulu menghadap Allah..
Tubuh-tubuh mereka yang dipenuhi kerinduan itu kini mendapat tempatnya di tanah Baqi’. Selamat jalan wahai Sa’ad! Selamat jalan wahai pahlawan Qadisiyah, penakluk Mada’in, dan pemadam api yang di sembah di Persia untuk selama-lamanya.

https://shorturl.fm/tSPR1