SA’AD BIN ABI WAQQASH

Khotbah Pengobar Semangat

Pada saat itulah Sang “Singa yang Menyembunyikan Kukunya” itu bangkit lalu berdiri di hadapan pasukannya untuk menyampaikan khutbah yang diawali dengan ayat berikut:

‎ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

“Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang (QS. Al-Fatihah: 1)

‎ وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِنْ بَعْدِ الذِكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّ لِحُونَ * ‎

Dan sungguh telah Kami tulis di dalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh bahwasanya bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba Ku yang saleh.” (QS. Al-Anbiya’: 105)

Setelah selesai menyampaikan khutbah, Sa’ad mengimami pasukannya untuk menunaikan shalat zuhur. Selanjutnya, ia menghadap ke arah pasukan sambil mengumandangkan takbir empat kali: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.”

Suaranya menggema di seluruh semesta lalu kembali bersama suara orang- orang yang mengucapkan takbir. Sa’ad mengulurkan tangan laksana anak panah yang tajam, menunjuk ke arah musuh dan berteriak, “Marilah kita sambut berkah Allah!”

Dengan susah payah sambil menahan sakit, Sa’ad naik ke atas balkon rumah tempat ia singgah. la jadikan rumah itu sebagai markas komandonya. Ia duduk di atas balkon sambil bersandar pada sebuah bantal sementara pintu rumah terbuka.

Sedikit saja serangan dari orang-orang Persia ke rumah itu, sudah dapat mengakibatkan panglima kaum Muslimin itu jatuh ke tangan mereka, baik hidup maupun mati. Akan tetapi, ia tidak gentar dan tidak takut. Bisul-bisul yang ada di tubuhnya kian parah dan pecah, tetapi Sa’ad tidak menghiraukannya.

Komando Perang

Dari atas balkon itu, dia bertakbir dan berteriak, mengeluarkan perintah kepada satu kelompok: “Bergeraklah maju ke sebelah kanan!” dan memberi komando kepada kelompok yang lain:

“Tutuplah celah di sebelah kiri!” “Di depanmu wahai Mughirah!”

“Di belakang mereka wahai Jarir!”

“Pukullah wahai Nu’man!” “Seranglah wahai Asy’ats!” “Hantamlah wahai Qa’qa’!”

“Majulah wahai para sahabat Muhammad!” Suaranya yang penuh dengan tekad dan optimisme mampu mengubah setiap satu prajurit menjadi satu peleton pasukan. Tentara Persia berguguran laksana lalat yang lemah. Dengan demikian, gugur pulalah bersama mereka pemujaan penyembahan berhala dan penyembahan pada api.

Sisa-sisa pasukan yang kalah melarikan diri setelah melihat gugurnya panglima dan prajurit terbaik mereka. Pasukan Islam mengejar mereka hingga ke Nahawan dan lalu ke Mada’in. Mereka memasuki Madâ in untuk mengambil singgasana dan mahkota kisra sebagai rampasan perang dan fai’

Dalam perang Madain, Sa’ad berjuang habis-habisan hingga mencapai prestasi agung. Perang Madain terjadi sekitar dua tahun setelah Perang Qadisiyah. Selama dua tahun itu terus-menerus terjadi peperangan dalam skala kecil antara Persia dan kaum Muslimin. Akhirnya, sisa-sisa pasukan Persia berkumpul di Madain dan bersiap-siap untuk menghadapi situasi perang terakhir dan menentukan.

Sa’ad menyadari bahwa kondisi medan dan musim berpihak pada musuh. Pasalnya, antara pasukannya dan Madain terhalang oleh sungai Tigris yang sedang meluap dan banjir. Meskipun demikian, ia tetap memutuskan untuk melakukan penyerangan pada saat itu juga. Langkah itu ia ambil dengan pertimbangan bahwa ketika itu kondisi mental pasukan musuh sedang menurun.

Situasi itu membuktikan bahwa Sa’ad adalah benar-benar sebagaimana yang di gambarkan oleh Abdurrahman bin Auf: “Singa yang Menyembunyikan Kukunya.” Keimanan dan keyakinan Sa’ad bersinar saat menghadapi bahaya yang menyertainya dalam pertempuran besar itu.

Menyebrangi Sungai Tigris

Demikianlah Sa’ad memberi komando kepada pasukannya untuk melihati sungai Tigris. Ia perintahkan pasukannya untuk mencari celah di sungai yang memungkinkan mereka mencuri. Akhirnya, mereka menemukan celah tersebut meski untuk pemandangannya tidak terlepas dari bahaya besar yang mengancam.

Sebelum pasukan memulai penyeberangan, Panglima Sa’ad sadar akan pentingnya pengamanan terhadap pinggiran sungai di seberang sana, yaitu daerah yang masih di kuasai oleh musuh. Pada saat itu juga ia pun menyiapkan dua batalion.

Batalion pertama diberi nama Batalion Ahwal dan Sa’ad menunjuk Ashim bin Amr sebagai komandannya. Batalion kedua mereka sebut dengan Batalion al-Kharsa’ dan sebagai komandannya, Sa’ad menunjuk al-Qa’qa’ bin Amar.

Kedua batalion bertugas ini menyingkap bahaya agar dapat mencapai seberang dengan selamat dan menyiapkan tempat yang aman bagi pasukan yang menyeberang di belakang mereka. Mereka pun menunaikan tugas tersebut dengan sangat menakjubkan.

Rencana Sa’ad pada saat itu meraih keberhasilan yang mengagumkan bagi para sejarahwan dan membuat mereka tercengang, bahkan bagi Sa’ad bin Abi Waqqash sendiri. Begitu juga dengan sahabat dan kawan seperjuangannya dalam pertempuran, Salman al-Farisi, yang terkesima terhadap hasil yang dicapai.

Salman berkata, “Sungguh Islam adalah agama baru, tetapi-demi Allah-lautan telah dapat mereka taklukkan sebagaimana daratan telah mereka kuasai. Demi Dzat yang jiwa Salman ada di tangan-Nya, mereka akan keluar dari sana berbondong-bondong sebagaimana telah memasukinya dengan berbondong bondong pula.”

339 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Comment