Seorang Yang Beruntung
Suatu hari ketika Nabi sedang duduk bersama para sahabat, beliau menerawang ke arah cakrawala seperti orang yang sedang mendengar bisikan dan kata-kata rahasia. Selanjutnya, beliau menyapukan pandangan ke wajah para sahabat lalu bersabda,
“Saat ini akan datang kepada kalian seorang laki-lak penduduk surga.”
Para sahabat pun menoleh ke kanan, kiri, dan segala arah untuk mencari tahu siapakah orang yang bahagia dan beruntung mendapat karunia itu. Beberapa saat kemudian, muncullah Sa’ad bin Abi Waqqash.
Dalam kesempatan berikutnya, Abdullah bin Amr bin ‘Ash mendekati Sa’ad dan meminta dengan sangat agar Sa’ad mau menunjukkan kepadanya ibadah dan amalan apa yang ia gunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah hingga ia layak mendapat pahala dan kabar gembira seperti itu.
Sa’ad menjawab “Tidak lebih dari amal ibadah yang biasa kita lakukan. Namun, aku tidak pemah menyimpan dendam maupun niat jahat terhadap siapa pun.”
Itulah ia “Singa yang Menyembunyikan Kukunya” sebagaimana di gambarkan oleh Abdurrahman bin Auf. Itulah laki-laki yang di pilih oleh Umar untuk memimpin Perang Qadisiyah yang dahsyat itu.
Keistimewaan dan keutamaan yang ada pada diri Sa’ad-lah pada akhirnya membuat Amirul Mukminin Umar memilihnya untuk menjalankan tugas penting yang sedang di hadapi Islam dan kaum Muslimin. Pada saat itu. Keistimewaannya itu tampak jelas di hadap Amirul Mukminin karena ia orang yang memiliki doa mustajab.
Jika meminta kemenangan kepada Allah, Allah pasti memberinya. la seorang yang sangat berhati-hati terhadap makanan, terjaga lisannya, dan bersih hatinya. Salah seorang penduduk surga sebagaimana di kabarkan oleh Rasulullah
Seorang kesatria dalam Perang Badar, Perang Uhud, dan setiap peristiwa bersenjata yang di laluinya bersama Rasulullah.
Keistimewaan Sa’ad
Hal lain yang tidak kalah penting adalah nilai dan kedudukannya bagi Umar. Di antara keistimewaan-keistimewaan yang harus di miliki oleh setiap orang yang hendak mengemban tugas-tugas besar adalah kekuatan dan keteguhan iman.
Umar tidak pernah lupa cerita Sa’ad bersama ibunya saat ia baru masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah. Pada waktu itu, sang ibu telah kehabisan segala usaha untuk mencegah dan menghalangi putranya, Sa’ad, dari agama Allah.
Akhirnya, sang ibu pun menggunakan cara yang tidak seorang pun ragu bahwa ia pasti akan menundukkan hati Sa’ad dan mengembalikan keyakinannya pada penyembahan berhala. Sebagaimana keluarga dan kaum kerabatnya.
Sang ibu mengumumkan bahwa dirinya akan mogok makan dan minum sampai Sa’ad mau kembali pada agama nenek moyang dan kaumnya.
Rencana itu di jalaninya dengan penuh kesungguhan dan tekad yang luar biasa. la benar-benar tidak mau sedikit pun menyentuh makanan dan minuman hingga hampir-hampir binasa menemui ajalnya.
Namun, Sa’ad tak menghiraukan. Bahkan, sedikit pun ia tidak terpengaruh akan hal itu. Ia tidak ingin menjual iman dan agamanya dengan sesuatu pun, bahkan jika sesuatu itu adalah nyawa ibunya sekalipun.
Ketika kondisi ibunya telah sedemikian lemah tak berdaya dan hampir saja menjumpai ajal, salah seorang keluarganya mengajak Sa’ad untuk menemui ibunya demi menyampaikan salam perpisahan. Harapannya agar dengan begitu hati Sa’ad akan luluh ketika melihat ibunya menghadapi sakratulmaut.
Sa’ad pun pergi dan setibanya di tempat, ia menyaksikan suatu pemandangan yang sangat menyentuh hatinya, seakan-akan mampu melelehkan batu karang. Akan tetapi, imannya kepada Allah dan Rasul-Nya lebih tinggi dan kukuh daripada kerasnya baja maupun batu karang mana pun juga.
Pengaruh Ibunda
Sa’ad mendekatkan wajahnya ke wajah ibunya lalu berkata dengan suara yang nyaring kepada ibunya, “Demi Allah, ketahuilah wahai bunda, andaipun engkau memiliki seratus nyawa kemudian nyawa itu keluar satu demi satu, tidaklah ananda akan meninggalkan agama ini karena apa pun. Karena itu, jika bunda mau, makanlah dan jika tidak, teserahlah kepada bunda.”
Bukankah ia benar-benar “Singa yang Menyembunyikan Kukunya”? Hal itu jugalah yang membuat Amirul Mukminin dengan lapang menyerahkan bendera Qadisiyah di tangan kanan Sa’ad. la di utus untuk menghadang pasukan Persia yang jumlahnya tidak kurang dari seratus ribu prajurit terlatih di sertai persenjataan yang lengkap dan pertahanan paling ditakuti di atas bumi saat itu.
Mereka di bimbing oleh strategi perang yang paling cerdas dan akal yang paling cemerlang. Namun Sa’ad keluar hanya bersama 30 ribu prajurit saja. Para mujahid itu di persenjatai dengan panah dan tombak di tangan mereka masing-masing.
Persenjataan mereka hanya panah dan tombak, tetapi dalam hati mereka terdapat semangat agama baru yang di penuhi dengan keimanan, kesungguhan, serta kerinduan yang luar biasa terhadap kematian dan kesyahidan.
Dua pasukan itu pun saling bertemu. Akan tetapi, mereka belum bertempur Sa’ad masih menanti nasihat dan petunjuk dari Amirul Mukminin, Umar.
Datanglah surat Umar yang memerintahkan agar Sa’ad segera menuju Qadisiyah, karena kota ini adalah pintu gerbang memasuki Persia. Umar menancapkan-dalam hati Sa’ad-kalimat berharga yang semuanya merupakan cahaya dan hidayah:

https://shorturl.fm/tSPR1