SA’AD BIN ABI WAQQASH

Surat Umar

“Wahai Sa’ad bin Wahib, janganlah kamu tertipu dalam menuju Allah lantaran engkau di sebut-sebut sebagai paman dan sahabat Rasulullah! Sungguh tidak kelebihan hubungan keluarga antara seseorang dan Allah, kecuali dengan ketaatan kepada-Nya. Semua manusia, baik yang terhormat maupun yang rendah kedudukannya, adalah sama dalam pandangan Allah. Allah adalah Tuhan mereka dan mereka adalah hamba-Nya Mereka saling mengungguli satu sama lain dengan kebenaran dan mengejar apa yang ada di sisi Allah dengan ketaatan. Karena itu, lihatlah apa yang kaulihat pada Rasulullah sejak di utus hingga meninggalkan kita. Peganglah itu dengan teguh karena itulah yang harus di ikuti!”

Umar juga mengatakan, “Kabarkanlah kepadaku tentang segala keadaan kalian, bagaimana kalian turun dan di mana posisi musuh kalian. Dengan surat suratmu itu, buatlah aku seakan mengawasi kalian!” Sa’ad mengirimkan surat kepada Amirul Mukminin. la gambarkan segala sesuatunya kepadanya, bahkan ia hampir saja memberikan gambaran tentang sikap dan posisi setiap prajurit secara detail.

Sa’ad telah sampai di Qadisiyah. Seluruh pasukan dan rakyat Persia berkumpul suatu hal yang sebelumnya mereka tidak pernah lakukan. Pasukan Persia di pimpin oleh panglima yang paling terkenal dan paling berbahaya, yakni Rustum.

Sa’ad mengirim surat kepada Umar. Amirul Mukminin Umar pun segera memberi balasan:

“Janganlah sekali-kali apa yang kalian dengar dan yang mereka tunjukkan kepadamu itu membuat kalian gentar! Mintalah pertolongan kepada Allah dan berserah dirilah kepada-Nya! Kirimkanlah beberapa orang yang pandai berdebat, berargumen, dan teguh untuk menyeru mereka kepada Allah. Kirimkanlah surat kepadaku setiap hari!”

Sa’ad kembali menulis surat balasan kepada Amirul Mukminin la mengatakan, “Rustum mengambil kamp di Sabath. la menggiring kuda-kuda dan gajah berjalan merayap menuju tempat kami.” Surat balasan dari Umar pun tiba yang isinya menabahkan hati Sa’ad dan memberinya saran.

Salah Satu Paman Rasulullah

Sa’ad, sang prajurit yang cerdas dan pemberani itu adalah paman Rasulullah. Orang yang paling cepat masuk Islam. Pahlawan pertempuran dan peperangan yang tidak gentar oleh pedang dan lemparan panahnya tidak pernah meleset.

Kini ia berdiri di hadapan pasukannya dalam salah satu pertempuran besar dan bersejarah, la berdiri sebagaimana prajurit biasa. Kekuatan dan kedudukannya sebagai pemimpin tidak lantas memperdayakannya untuk mengandalkan kemampuan dan pendapatnya sendiri.

la selalu menghubungi Amirul Mukminin di Madinah yang jaraknya sangat jauh. Setiap hari ia kirimkan surat kepada Amirul Mukminin untuk saling bertukar pikiran dan pendapat, padahal pertempuran besar sudah di depan mata.

Hal itu karena Sa’ad tahu bahwa di Madinah Umar tidaklah memberikan fatwa atau mengemukakan pendapatnya seorang diri. Akan tetapi, Umar pasti selalu bermusyawarah meminta pendapat kaum Muslimin di sekelilingnya dan para sahabat Rasulullah terbaik.

Bagaimanapun gentingnya situasi perang, Sa’ad tidak ingin menghalangi dirinya maupun pasukannya dari berkah dan manfaat musyawarah, apalagi jika salah satu pilamnya adalah Umar al-Faruk, sang inspirator agung.

Sa’ad benar-benar melaksanakan pesan Umar. la kirimkan beberapa sahabat untuk menemui Rustum dan menyerunya kepada Islam. Terjadilah dialog panjang antara para utusan itu dan sang panglima Persia. Akhimya, mereka akhiri dialog dengan Rustum ketika salah seorang dari mereka berkata,

Negosiasi Dengan Panglima Persia

“Sesungguhnya, Allah telah memilih kami untuk membebaskan hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki dari penyembahan terhadap berhala kepada tauhid; dari sempitnya hidup menuju keluasan; dari kezaliman penguasa pada keadilan Islam. Siapa yang menerima seruan itu dari kami maka kami sambut kesediaannya lalu kami biarkan ia. Namun, siapa yang memerangi kami maka kami perangi pula mereka hingga kami mencapai janji Allah.”

Rustum bertanya, “Apakah janji Allah kepada kalian?” Sahabat itu pun menjawab, “Surga bagi kami yang mati syahid dan kemenangan bagi kami yang hidup.”

Delegasi itu pun kembali kepada panglima kaum Muslimin, Sa’ad, untuk memberitahukan bahwa tidak ada pilihan lain selain perang. Kedua mata Sa’ad bercucuran air mata. la berharap seandainya perang bisa sedikit di tunda atau di ajukan.

Pasalnya, saat itu ia terserang penyakit yang begitu parah dan memberatkan langkahnya. Tubuhnya di penuhi bisul hingga ia hampir tidak bisa duduk, apalagi untuk menunggang kuda dan membawanya terjun ke medan perang yang sangat sengit dan keras.

Seandainya saja perang terjadi sebelum ia sakit atau di undur hingga ia sembuh, pastilah ia bisa berjuang mati-matian. Adapun sekarang, sekadar duduk pun sulit baginya. Namun, tidak! Rasulullah telah mengajarkan agar janganlah seseorang dari mereka berkata, “Seandainya karena kata-kata ini menunjukkan ketidakberdayaan. Padahal, mukmin yang kuat tidak pernah kehabisan akal dan tidak pernah lemah.

339 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Comment