SA’AD BIN ABI WAQQASH

Menebus Sa’ad dengan Orang Tua

Ali bin Abi Thalib berkata, “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah menebus seseorang dengan kedua orang tuanya, kecuali bagi Sa’ad. Pada Perang Uhud aku mendengar aendiri sabda beliau.

Sa’ad adalah salah satu kesatria Arab dan kaum Muslimin yang paling pemberani. la memiliki dua senjata: panah dan doa. Jika dalam suatu peperangan ia memanah musuh, dapat di pastikan akan mengenai sasarannya. Begitu pun jika ia berdoa kepada Allah. Dia pasti mengabulkannya.

Menurut Sa’ad dan para sahabatnya, hal itu di karenakan doa Rasulullah untuk Sa’ad. Suatu hari ketika Rasulullah melihat sesuatu yang menggembirakan dan menyenangkan beliau dari Sa’ad, beliau pun mendoakannya dengan doa yang makbul: “Ya Allah. tepatkanlah lemparan panahnya dan kabulkanlah doanya.”

Demikianlah, di tengah para saudara dan para sahabat, Sa’ad di kenal memiliki doa yang tajam laksana pedang. Ia juga menyadari hal itu pada dirinya. Karena itu, setiap mendoakan (keburukan) terhadap seseorang maka ia selalu beserah pada keputusan Allah.

Salah satu bukti dari kemanjuran doa Sa’ad adalah kisah yang di riwayatkan oleh Amir bin Sa’ad yang mengatakan, “Sa’ad melihat seorang laki-laki mengumpat Ali, Thalhah, dan Zubair. Sa’ad melarangnya, tetapi laki-laki itu tidak menghiraukan.

Sa’ad lantas berkata: “Kalau begitu akan kudoakan (keburukan) padamu!”

Laki- laki tersebut menjawab: ‘Engkau mengancamku seolah dirimu adalah seorang nabi.

Sa’ad pun beranjak untuk mengambil wudhu kemudian shalat dua rakaat. Sesudah shalat, ia mengangkat kedua tangannya dan berdoa, “Ya Allah, jika menurut ilmu-Mu laki-laki ini telah mengumpat orang-orang yang telah mendapat anugerah (kebaikan) dari-Mu dan umpatan itu membuat-Mu murka, jadikanlah ia sebagai pertanda dan suatu pelajaran.”

Ijabahnya Doa Sa’ad

Tidak lama kemudian, tiba-tiba muncullah seekor unta liar dari sebuah pekarangan rumah. Tidak ada sesuatu pun yang bisa merintanginya sampai ia masuk ke dalam kerumunan manusia seakan sedang mencari sesuatu. Sejurus kemudian unta itu pun menerjang laki-laki tersebut dan membantingnya di antara kaki-kakinya kemudian menginjak-injaknya sampai akhirnya ia berjumpa dengan ajalnya.

Kejadian ini pertama kali memberitahukan tentang kejernihan jiwa Sa’ad, kebenaran iman, dan keikhlasannya yang mendalam. Demikianlah, Sa’ad memiliki jiwa yang merdeka, keyakinan yang kukuh, dan keikhlasan yang dalam. Demi meneguhkan ketakwaannya, ia selalu memakan makanan yang halal dan menolak dengan tegas setiap dirham yang mengandung syubhat.

Selama hidup Sa’ad termasuk salah seorang muslim yang kaya dan ketika wafat, ia meninggalkan kekayaan yang tidak sedikit jumlahnya. Di samping itu jika biasanya harta banyak dan halal itu jarang sekali terhimpun, keduanya telah berkumpul di tangan Sa’ad. Allah telah memberinya harta yang banyak, halal, dan baik.

Sa’ad adalah seorang mahaguru dalam hal seni memberi sebagaimana juga menjadi guru dalam seni memilih harta bersih lagi halal. Kemampuan Sa’ad untuk mencari harta yang murni halal itu disamai-atau bahkan dikalahkan- oleh kemampuannya untuk menafkahkan hartanya di jalan Allah.

Pertanyaan Sa’ad

Ketika Haji Wada, Sa’ad bersama Rasulullah. Pada saat itu ia menderita sakit lalu Rasulullah datang menjenguknya.

Sa’ad bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, saya adalah orang kaya dan tidak memiliki ahli waris selain satu anak perempuan. Apakah boleh aku sedekahkan dua pertiga hartaku?

Nabi menjawab, “Tidak.”

Sa’ad bertanya, “Kalau setengahnya?”

Nabi menjawab, “Jangan.”

Sa’ad bertanya lagi, “Kalau begitu, sepertiganya?”

Nabi bersabda, “Ya, dan sepertiga itu sudah banyak. Jika engkau meninggalkan ahli warismu sebagai orang-orang kaya, itu lebih baik daripada kamu tinggalkan mereka sebagai orang miskin yang meminta-minta kepada orang lain. Setiap nafkah yang engka infakkan demi mencari keridhaan Allah, pasti akan mendapat pahala, bahkan sekalipan hanya sesuap makanan yang engkau masukkan ke dalam mulut istrimu.”

Sa’ad tidak selamanya menjadi ayah dari satu anak perempuannya. Pasalnya setelah kejadian itu, ia di karuniai dua anak laki-laki.

Sa’ad adalah orang yang sering menangis karena takut kepada Allah. Setiap kali mendengar Rasulullah memberi nasihat dan berkhutbah di hadapan para sahabat maka air matanya selalu berlinang hampir-hampir memenuhi pangkuannya. Sa’ad adalah seorang laki-laki yang di beri nikmat taufik dan di terima amal ibadahnya.

338 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Comment