Duka Junka
Setiap pagi dia mengumpulkan kekuatan untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. Dan setiap malam sebelum tidur Junka mengeluarkan cermin dan menatap pantulannya. Setelah beberapa waktu berlalu dalam duka Akio menikah lagi. Seperti yang di sarankan oleh para ketua perusahaan.
Junka pun sekarang berada di bawah kekuasaan ibu tiri yang bernama Hisa. Pada awalnya kehidupan kembali berjalan dengan normal. Junka muda tumbuh semakin besar dan cantik. Dia selalu mengingat pesan dari ibunya untuk tumbuh dalam rupa dirinya.
Junka menerima Hisa dan Akio bersama. Namun terkadang Hisa mengeluhkan perilaku putri tirinya, tetapi Akiyo tahu bahwa Junka tidak seperti itu. Wanita keji itu memikirkan cara untuk mengusir Junka dari rumah. Suatu pagi Hisa mengikuti Junka ke kamarnya dan menemukan kesalahan yang cukup besar.
Kemudian ia mempunyai ide untuk menuduh anak itu, lalu dia berlari ke suaminya dan meneteskan air mata buaya.
Fitnah Hisa
“Suamiku…tolong beri izin aku untuk meninggalkanmu hari ini”
“Apa yang terjadi”
“Hidupku dalam bahaya dan aku harus segera pergi”
“Tolong beritahu saya bagaimana hidupmu dalam bahaya”
“Aku yakin dia telah membuat gambarku dan dia terus mengutuk itu setiap hari dan dengan bantuan mantra dia ingin menyingkirkanku”
Mendengar ini Akiyo menjadi marah, karena ia tahu tentang bagaimana seseorang bisa membuat citra seseorang yang mereka benci dan mengutuknya setiap hari untuk menyakiti mereka.
“Berhenti menangis sayang, aku akan bicara dengan Junka”
Akio mengabaikan perasaan tidak bahagianya Junka akhir-akhir ini. Kemajuan Junka yang baik di sambut dengan keraguan dan juga kecurigaan. Hisa tidak pernah sungguh menerimanya sebagai keluarga. Kesedihan menenggelamkannya terlebih lagi perilaku jahat Hisa membuatnya semakin merindukan ibunya sendiri.
Sekarang dia menatap ke cermin beberapa kali sehari untuk melihat wajah ibunya, itu adalah satu-satunya kenyamanan yang dia miliki. Di hari-hari yang menyedihkan itu Akiyo mendapati putrinya membungkuk menatap sesuatu dengan saksama.
Junka dengan cepat menyembunyikan cermin di lengan kimononya. Junka yang bingung berbalik dan benar-benar bingung melihat ayahnya menyelinap ke arahnya dengan cara ini.
“Apa yang kau sembunyikan itu”
“Ooh.. ayah, ini bukan apa-apa”
Kebenaran Yang Terungkap
“Jadi itu benar, kau telah mengutuk citra ibu tirimu dan merapal mantra. Apa kau lupa nilai-nilaimu meskipun dia adalah ibu tirimu kau harus patuh dan setia padanya. Kapan kau menjadi begitu keji, kau pasti telah berubah. Junka Jawab aku!!! Kata-kata kasar Akiyo terhenti”.
“Ayah tidak.. aku tidak melakukan itu, hatiku ini bersih Ayah”
“Lalu apa yang kau sembunyikan di lengan bajumu, tunjukkan pada ayah sekarang”
“Aku telah menyembunyikan ini”
“Apa itu cermin ibumu, kau telah menyimpannya selama ini kenapa?”
“Lalu Junka menceritakan kalimat perpisahan ibunya”
“Apa maksudmu? Bagaimana kau bisa bertemu dengan jiwa ibumu yang hilang dengan melihat kecermin ini”
“Itu benar Ayah, kalau tidak percaya ayah lihat saja sendiri”
Kemudian dia menunjuk pada bayangan manisnya sendiri dengan serius.
“Apakah kau masih meragukanku Ayah?”
Akiyo lalu merangkul anak perempuannya, hatinya luluh seketika melihat kepolosan putrinya
“Betapa bodohnya aku mempertanyakan sifatmu, wajahmu mirip sekali dengan ibumu. Jadi selama ini kau sebenarnya melihat bayanganmu sendiri”
Mendengar perkataan Junka, Hisa menyadari kesalahannya selama ini. Junka sangat baik tapi dia memperlakukannya dengan tidak baik.
“Maafkan perbuatanku selama ini Junka, mulai hari ini aku akan mencintaimu seperti anakku dan menghabiskan sisa hidupku untuk menebusnya untuk mu”.
Keluarga itu kembali bersatu dengan bahagia. Begitulah manisnya gadis ini dia langsung memaafkan ibu tirinya dan tidak menyimpan dendam. Dia tidak menyimpan kebencian di hatinya dan mencintainya sepenuhnya.
