Tetap Tawadhu’
Namun, Bilal tetaplah Bilal. la tetap seperti sebelumnya, seorang laki-laki mulia dan rendah hati yang selalu memandang dirinya tidak lebih dari seorang Habasyah yang sebelumnya adalah seorang budak.
Suatu hari ia pergi melamar dua orang wanita, yang satu di jadikan sebagai calon istri untuk dirinya sendiri dan satunya lagi untuk saudaranya. Bilal berkata kepada ayah kedua wanita tersebut.
“Aku adalah Bilal dan ini adalah saudaraku. Kami adalah dua orang budak dari Habasyah. Kami dulu tersesat kemudian Allah memberikan kami hidayah. Sebelumnya, kami adalah dua orang budak yang kemudian di merdekakan oleh Allah. Jika engkau terima kami, kami bersyukur. Akan tetapi, jika engkau tolak kami, Allah Maha besar.
Rasulullah telah berpulang ke rahmatullah dengan ridha dan di ridhai. Selanjutnya, urusan kaum Muslimin di pegang oleh Khalifah Abu Bakar ash- Shiddiq.
Suatu hari Bilal hendak menemui Khalifah untuk menyampaikan isi hatinya. Ia berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah, aku mendengar Rasulullah bersabda: “Amal mukmin yang paling utama adalah jihad fi sabilillah”.”
Kemudian Abu Bakar bertanya, “Jadi, apa yang akan kamu lakukan wahai Bilal?”
“Aku ingin tetap berjuang di jalan Allah sampai akhir,” jawab Bilal. “Lalu siapa lagi yang akan mengumandangkan azan untuk kami?” tanya Abu Bakar.
Dengan dua mata yang berlinang air mata, Bilal menjawab, “Sungguh aku tidak akan lagi mengumandangkan azan untuk siapa pun sesudah Rasulullah.”
Abu Bakar berkata, “Wahai Bilal, tetaplah di sini dan kumandangkanlah azan untuk kami!” Kemudian Bilal berkata, “Seandainya dulu engkau memerdekakan aku demi kepentinganmu, aku akan terima kehendakmu itu. Namun, jika engkau memerdekakanku karena Allah, biarkan diriku ini untuk Allah sebagaimana dengan maksud baikmu itu.”
Akhir Hidup Sang Muazin
“Bilal, aku memerdekakanmu karena Allah,” jawab Abu Bakar. Mengenai riwayat hidup Bilal selanjutnya, terjadi beberapa perbedaan pendapat di antara para perawi. Ada yang meriwayatkan Bilal pergi ke Syam lalu tinggal di sana sebagai mujahid dan penjaga perbatasan wilayah Islam.
Ada pula yang meriwayatkan bahwa Bilal menerima permintaan Abu Bakar untuk tetap bersamanya di Madinah. Ketika Abu Bakar wafat dan ketika di gantikan oleh Umar sebagai khalifah, Bilal meminta izin untuk pergi ke Syam.
Singkat kata, Bilal mempersembahkan sisa hidup dan umurnya untuk berjuang di jalan Allah. Ia bertekad untuk dapat menghadap Allah dan Rasul-Nya dalam keadaan dirinya sedang melakukan amal yang paling di cintai oleh Allah dan Rasul-Nya.
Suaranya yang sangat merdu, lembut, dan menyentuh hati itu tidak lagi mengumandangkan azan seperti biasa. Setiap kali Bilal azan dan mengucapkan kalimat “Asyhadu anna Muhammadarrasulullah” maka muncullah ingatannya kepada Rasulullah yang menyebabkan suaranya tenggelam dalam kesedihan. Air mata pun bercucuran menggantikan kata-katanya.
Azan terakhir yang di kumandangkan adalah ketika Amirul Mukminin Umar berkunjung ke negeri Syam. Ketika itu kaum Muslimin meminta Umar agar membujuk Bilal untuk sekali saja mengumandangkan azan bagi mereka. Umar pun memanggil Bilal ketika waktu shalat telah tiba.
Umar berharap kepada Bilal agar dirinya bersedia mengumandangkan azan. Saat Bilal mengumandangkan azan, para sahabat yang pernah melihat Rasulullah turut menangis dan mencucurkan air mata. Mereka menangis seolah-olah belum pernah menangis sebelumnya dan Umar adalah yang paling keras tangisannya di antara mereka.
Bilal wafat di Syam seperti yang di inginkannya yaitu sebagai seorang pejuang di jalan Allah. Kini di bawah bumi Damaskus terpendam jasad salah seorang pribadi yang agung di antara manusia, yang paling teguh dan tangguh dalam mempertahankan akidah dan keyakinan.
