Menjadi Muazin Rasulullah
Sesudah Rasulullah dan kaum Muslimin hijrah ke Madinah dan menetap di sana, beliau mensyariatkan azan sebelum shalat. Dalam kondisi seperti itu, siapakah yang cocok menjadi muazin untuk menunaikan shalat waktu setiap hari yang kalimat-kalimat takbir dan tahlilnya menggema di cakrawala?
Orang itu adalah Bilal yang sejak tiga belas tahun lalu telah berteriak, “Allah Ahad… Ahad…,” meskipun siksa senantiasa menimpa dan menyiksa tubuhnya. Kini Rasulullah telah memilihnya menjadi muazin Islam yang pertama. Dengan suaranya yang merdu dan indah, Bilal mampu memenuhi hati dengan keimanan dan memenuhi telinga dengan keindahan. Ia menyeru:

Suatu saat pecahlah perang antara kaum Muslimin dan pasukan Quraisy yang datang menyerang ke Madinah. Perang terjadi begitu sengit, beringas, dan dahsyat. Bilal berjuang keras dalam perang pertama yang di alami oleh Islam, yaitu Perang Badar yang pada saat itu Rasulullah menjadi kalimat “Ahad… Ahad…” sebagai syiarnya.
Perang Badar
Dalam peperangan ini, kaum Quraisy mengerahkan seluruh kekuatannya. Semua tokoh Quraisy keluar untuk berperang. Awalnya Umayah bin Khalaf, yakni mantan majikan Bilal yang dahulunya telah menyiksanya secara kejam dan dahsyat, berniat tidak akan ikut dalam peperangan itu. Umayah berniat mengundurkan diri andai bukan karena di datangi oleh sahabatnya: Uqbah bin Abi Mu’ith yang mengetahui kemalasan dan pengunduran dirinya.
Uqbah datang dengan membawa anglo (berupa alat yang biasa dipakai oleh wanita untuk mengasapi tubuh mereka dengan wewangian) di tangan kanannya. Ketika tiba dan menjumpai Umayah yang ketika itu sedang duduk di tengah-tengah kaumnya, Uqbah melemparkan anglo itu ke hadapan Umayah sambil berkata,
“Wahai Abu Ali, gunakanlah anglo ini karena kamu tidak jauh beda dengan seorang wanita!” Umayah pun berkata dengan membentak, “Kurang ajar! Sialan kau!” Pada akhirnya, ia tidak punya pilihan selain pergi berperang bersama rekan-rekannya.
Rahasia apakah yang hendak di sembunyikan dan di siarkan oleh takdir? Sebelumnya, Uqbah bin Abi Mu’ith adalah tokoh yang paling keras dalam mendorong Umayah untuk menyiksa Bilal dan kaum Muslimin yang lemah lainnya. Kini dia jugalah yang mendorongnya untuk berpartisipasi dalam Perang Badar yang akan menjadi medan kematiannya sekaligus kematian Uqbah itu sendiri.
Umayah tidak akan berperang jika bukan karena desakan Uqbah seperti yang telah kita simak sebelumnya. Namun, kehendak Allah pasti akan berjalan. Ia ajak Umayah keluar untuk turut serta dalam perang. Pasalnya, ia memiliki utang masa lalu dengan seorang hamba Allah dan tiba saatnya untuk membayar utang itu.
Sungguh Allah tidak pernah tidur. Bagaimana engkau memperlakukan seseorang maka seperti itulah pula orang lain akan memperlakukanmu. Tidaklah sulit bagi takdir untuk menghinakan para diktator. Uqbah yang kata-katanya begitu di dengar oleh Umayah dan keinginannya untuk menyiksa orang-orang beriman yang tak berdosa segera diturutinya, kini ia pulalah yang akan menggiring Umayah menuju kematiannya.
