Bilal Bin Rabbah

Ketakutan Umayah bin Khalaf

Tangan siapakah yang nantinya akan merenggut ajal kenmatiannya? Tiada lain di tangan Bilal seorang diri. Tangan yang dahulu pernah di belenggu dengan rantai oleh Umayah sementara pemilik tangan itu di dera dan di siksa. Dengan tangan ini sendiri pada hari itu, dalam Perang Badar, memenuhi janji telah di tentukan dan di atur oleh takdir.

Utang-piutang segera terbalas dan perhitungan dengan para algojo Quraiys yang dengan kejam dan melampaui batas telah merendahkan kaum mukmin pun di laksanakan. Peristiwa itu benar-benar terjadi secara sempurna. Ketika perang di mulai, kaum Muslimin menggetarkan medan perang dengan slogan: “Ahad… Ahad….”

 Mendengar itu, bergetarlah hati Umayah yang di iringi rasa takut menguasai dirinya. Kalimat  yang dahulu di ucapkan terus-menerus oleh budaknya, di bawah tekanan siksa dan ketakutan, maka hari ini telah menjelma menjadi syiar bagi agama dan umat yang baru ini: “Ahad… Ahad!”

Apakah benar demikian? Mengapa secepat itu ucapan itu berkembang? Sungguh ini adalah pertumbuhan yang begitu cepat. Pedang-pedang saling berbenturan dan pertempuran pun berlangsung sengit Ketika perang hampir usai, Umayah melihat Abdurrahman bin Auf, sahabat Rasulullah Umayah pun segera berlindung kepadanya dan meminta untuk menjadi tawanan Abdurrahman bin Auf, dengan berharap bisa menyelamatkan nyawanya,

Abdurrahman bin Auf menerima permintaan Umayah dan bersedia melindunginya. Selanjutnya, ia membawa Umayah menuju tempat para tawanan. Namun, ketika dalam perjalanan, Bilal melihat sosok Umayah. la pun berteriak, “Inilah gembong kekafiran, Umayah bin Khalaf! Sungguh aku lebih baik mati daripada ia di selamatkan!”

Bilal kemudian mengangkat pedang hendak menebas kepala orang yang penuh dengan tipu daya dan kesombongan itu. Akan tetapi, Abdurrahman bin Auf berkata, “Hai Bilal, ia adalah tawananku!”. “Tawanan? Bukankah perang masih berlangsung?” tanya Bilal. Bagaimana mungkin ia di tawan, sedangkan pedangnya masih penuh lumuran darah kaum Muslimin hingga detik ini? .

Terbunuhnya Umayah bin Khalaf

Tidak! Buat Bilal, itu adalah bentuk pelecehan dan penistaan. Umayah pasti tertawa dan melecehkan. Ia telah melecehkan dan menindas sedemikian rupa. Bahkan, hari ini dan dalam kondisi segenting ini juga tidak lepas dari penghinaannya.

Bilal berpikir bahwa dirinya tidak akan mampu mendobrak perlindungan dari Abdurrahman bin Auf. Karena itu, ia berteriak sekeras-kerasnya kepada kaum Muslimin, “Wahai para tentara Allah. Itulah gembong kekafiran, Umayah bin Khalaf! Sungguh aku lebih baik mati daripada ia di selamatkan!”

Kemudian datanglah kaum Muslimin dengan pedang yang tercium aroma kematian. Mereka lalu mengepung Umayah dan putranya, Abdur Rahman bin Auf tidak bisa lagi untuk berbuat apa-apa. Bahkan, ia tidak mampu melindungi baju besinya yang terkoyak.

Bilal memandangi jasad Umayah yang tersungkur di bawah tebasan pedang kaum Muslimin tersebut. Setelah itu, ia bergegas pergi meninggalkan jasad itu sambil berteriak keras: “Ahad… Ahad….”

Dalam situasi seperti ini, bukanlah hak kita untuk membicarakan tentang keutamaan toleransi Bilal. Andai pertemuan antara Bilal dan Umayah terjadi dalam situasi yang lain, bolehlah kita bertanya kepadanya tentang toleransi yang tentunya ia pun akan menerimanya dan tidak mungkin di tolak Bilal, seorang yang mempunyai keimanan dan ketakwaan yang tinggi.

Namun, pertemuan dalam medan perang di mana tiap pihak datang untuk melenyapkan pihak lawannya. Pedang berkilauan dan korban berjatuhan, serta maut pun bergentayangan. Tiba-tiba, pada saat kondisi demikian, Bilal melihat Umayah yang pernah menyiksanya dan tak menyisakan seujung kuku pun tanpa bekas siksaan pada dirinya.

Sekali lagi, di mana dan bagaimana Bilal bin Rabbah melihat Umayah? Bilal melihat Umayah berada di medan perang ketika Umayah menebas kepala kaum Muslimin yang di temuinya dengan pedangnya. Andai saja saat itu ia berkesempatan untuk memenggal kepala Bilal, pastilah ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Demikianlah situasi yang terjadi ketika kedua lelaki itu bertemu. Dengan kondisi seperti itu, sangatlah tidak adil jika kita bertanya kepada Bilal: “Mengapa engkau tidak memaafkannya?”

179 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *