Keteguhan Iman
Bilal masih berada dalam kondisi penyiksaan tersebut hingga tiba saatnya mereka menegakkan badannya dan mengikat lehernya dengan tali. Kemudian. mereka perintahkan anak-anak untuk menyeret Bilal melewati perbukitan dan jalan-jalan di Mekah. Dalam situasi seperti ini, Bilal tetap mengucapkan senandung sucinya: “Ahad… Ahad….”
Ketika malam tiba, mereka kembali membujuk Bilal: “Besok kamu ucapkanlah kata-kata yang baik terhadap tuhan-tuhan kami. Katakanlah: Tuhanku adalah Lata dan Uza yang agar kami bisa melepaskanmu. Sungguh kami lelah menyiksamu, seolah-olah kami sendirilah yang sedang di siksa!”
Namun, Bilal hanya dapat menjawabnya dengan menggelengkan kepala sambil berkata, “Ahad… Ahad.” Karena tak tahan menahan amarah dan murka, Umayah bin Khalaf menampar Bilal. Dengan penuh kebencian, ia berteriak, “Kesialan apakah yang membawa kami kepadamu wahai budak celaka?
Demi Lata dan Uzza, aku akan membuatmu sebagai contoh bagi para tuan dan budak.” Dengan keyakinananya sebagai seorang mukmin dan keagungan seorang yang suci, Bilal menjawab, “Ahad… Ahad….” Seseorang yang merasa kasihan kepada Bilal kembali berbicara dan membujuknya.
la berkata, “Berhentilah wahai Umayah! Demi tuhan Lata, ia tidak akan di siksa lagi setelah hari ini. Bilal adalah bagian dari kita. Ibunya adalah budak kita. Ia tidak akan rela, dan akan menjadikan kita sebagai bahan pembicaraan dan bahan tertawaan kaum Quraisy.”
Bilal kemudian memandang wajah-wajah pendusta dan licik di depannya itu. Giginya yang putih bersih menyunggingkan senyum sperti cahaya fajar. Dengan ketenangannya, ia mampu mengguncangkan mereka, dan kembali berkata, “Ahad… Ahad….”
Awal kemerdekaan
Pagi telah tiba dan telah mendekati waktu siang. Bilal pun kembali di seret ke bawah terik matahari di padang pasir. Namun, ia tetap sabar,ikhlas, tegar dan tabah. Saat mereka sedang menyiksa Bilal, datanglah Abu Bakar ash- Shiddiq dan berkata, “Apakah kalian akan membunuh seseorang karena ia berkata: Tuhanku adalah Allah’?”
Selanjutnya, Abu Bakar berkata kepada Umayah bin Khalaf, “Ambillah harga tebusan yang lebih tinggi dan biarkan ia bebas!”
Saat itu Umayah seakan sedang tenggelam lalu di temukan oleh perahu penyelamat. la begitu senang dan merasa beruntung ketika mendengar Abu Bakar menawarkan harga pemerdekaan Bilal karena ia telah putus asa untuk menyiksa Bilal yang begitu menyesakkan jiwa mereka.
Selain itu, mereka adalah pedagang dan menyadari bahwa menjual Bilal akan lebih menguntungkan dari pada membunuhnya. Pada akhirnya, mereka pun menjual Bilal kepada Abu Bakar dan segera memerdekakannya saat itu juga. Dengan begitu, Bilal pun menempatkan dirinya di antara orang-orang merdeka.
Ketika Abu Bakar meraih tangan Bilal dan membawanya ke alam kemerdekaan. Umayah berkata, “Ambillah ia! Demi tuhan Lata dan Uzza, meskipun engkau hanya mau membelinya dengan satu keping emas pun, aku pasti akan memberikannya!” Abu Bakar bisa memahami pedihnya rasa putus asa dan hilangnya harapan dalam kata-kata Umayah ini.
Karena itu, ia tidak perlu menjawab. Akan tetapi, karena kata-kata itu berhubungan dengan kehormatan laki-laki yang kini telah menjadi saudaranya itu, Abu Bakar membalas kata-kata Umayah, “Demi Allah, andai kalian tidak mau menerima selain seratus keping emas, aku pasti membayarnya!”
Abu Bakar lalu membawa saudaranya itu menghadap Rasulullah seraya menyampaikan kabar gembira tentang kemerdekaan Bilal. Saat itu bagaikan hari raya yang agung.
