Cahaya Hidayah
Pada suatu hari di dalam jiwanya yang bersih, Bilal bin Rabbah melihat cahaya Allah dan mendengar suara-Nya. Ia segera bergegas menemui Rasulullah dan memeluk Islam. Kabar keislaman Bilal segera tersiar hingga tercium dan sampai pula di kepala tuan-tuan Bilal dari Bani Jumah.
Kepala-kepala yang selama ini di kuasai oleh kesombongan dan di bebani oleh keangkuhan, Karena itu, sangat wajar jika setan-setan di muka bumi mendekam di dada Umayah bin Khalaf yang melihat keislaman salah seorang budaknya sebagai tamparan keras yang menimpakan aib dan merendahkan kehormatan mereka semua.
Kini budak mereka yang berbangsa Habasyah itu masuk Islam dan menjadi pengikut Muhammad. Umayah berkata di dalam hatinya, “Meskipun begitu, tidak masalah karena matahari yang terbit hari ini tidak akan tenggelam, sampai tenggelamnya Islam dari budak yang durhaka ini.”
Namun, matahari sama sekali tidak menenggelamkan keislaman Bilal, bahkan suatu hari nanti, matahari akan menenggelamkan seluruh berhala kaum Quraisy dan para penyembahnya. Sedangkan Bilal memiliki sikap yang tidak hanya menjadi kehormatan bagi Islam saja, tetapi menjadi kehormatan bagi seluruh manusia secara umum. la mampu bersikap teguh menghadapi berbagai macam siksaan sebagaimana yang dialami oleh tokoh-tokoh utama lainnya.
Allah seakan menjadikannya sebagai contoh bagi umat manusia. Contoh bahwa hitamnya kulit dan kehamba sahayaan itu tidaklah menjadi penghalang untuk mencapai keagungan jiwa selama ia beriman dan taat kepada Penciptanya serta memegang teguh hak-hak-Nya.
Bilal bin Rabbah telah memberikan pelajaran yang dalam, bagi orang-orang yang hidup pada zamannya maupun orang-orang yang seagama dengannya, dan bagi agama-agama lainnya. Suatu pelajaran yang berarti bahwa kemerdekaan dan kebebasan nurani itu tidak bisa di jual meski dengan emas sepenuh bumi maupun dengan siksaan betapapun dahsyatnya.
Siksaan Bilal
Bilal di baringkan dalam keadaan telanjang di atas bara api agar mau melepaskan agamanya atau menyimpang dari keyakinannya. Akan tetapi, ia menolak. Karena itu, Rasulullah dan Islam telah menjadikan budak Habasyah yang lemah ini sebagai guru bagi seluruh umat manusia dalam hal menghormati nurani dan membela kebebasan serta kemerdekaannya.
Orang-orang Quraisy pernah membawa Bilal ke padang pasir pada tengah hari. Kala itu padang pasir seperti menjadi neraka Jahannam yang mematikan. Mereka menggiring Bilal dan melemparkannya ke atas pasir yang panas dalam keadaan telanjang.
Setelah itu, beberapa lelaki dari mereka menyiapkan batu besar panas kemudian menimpakannya ke atas tubuh dan dada Bilal. Penyiksaan yang kejam itu di lakukan berulang setiap hari, sampai ada beberapa orang algojo yang merasa iba kepada Bilal karena siksanya teramat dahsyat.
Akhirnya, mereka mau melepaskan Bilal dengan syarat mau menyebut nama-nama Tuhan mereka dengan sebutan yang baik meski hanya sepatah kata. Kaum Quraisy tidak mau jika di katakan bahwa mereka telah kalah dan bertekuk lutut di hadapan keteguhan dan ketabahan seorang budak.
Namun, meski hanya satu kata yang bisa di ucapkan tanpa di yakini dalam hati dan bisa di gunakan untuk menebus nyawa serta hidupnya tanpa kehilangan iman dan meninggalkan keyakinan, Bilal tetap menolak untuk mengucapkannya. Benar, Bilal menolak untuk mengucapkan kata-kata itu dan justru menggantikannya dengan senandungan abadi yang ia ulang-ulang: “Ahad… Ahad….”
Para algojo itu pun menghardiknya. Bahkan, mereka mengajarkan: “Sebutlah nama Lata dan Uzza!” Tetapi, Bilal tetap menjawab, “Ahad… Ahad….” Lalu mereka mengatakan, “Ayo…Katakan seperti yang kami katakan!” Akan tetapi, sekali lagi dengan keteguhan jiwa yang menakjubkan, Bilal menjawab, “Lidahku tidak bisa mengucapkannya.”
