Bilal Bin Rabbah

Asal usul Bilal

Orang-orang mengira bahwa seorang budak seperti Bilal biasanya asal- usulnya tidak jelas, tidak memiliki keahlian dan tidak mempunyai keluarga, serta tidak memiliki sesuatu pun dalam hidupnya.

Bahkan, seorang budak adalah milik tuannya yang telah membelinya dengan uang dan hidupnya berada di tengah hewan ternak, mengurusi unta dan kuda tuannya. Mereka tidak mengira bahwa makhluk seperti ini mampu melakukan sesuatu atau menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Namun, ternyata Bilal membuktikan kesalahan semua dugaan mereka. Ia mampu mencapai derajat keimanan yang sungguh sulit untuk di capai oleh orang lain. Ia mampu menjadi muazin yang pertama bagi Rasulullah dan Islam. Suatu amal yang sangat diharapkan oleh setiap pembesar dan tokoh Quraisy yang telah masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah.

Benar, ia adalah Bilal bin Rabbah. Kepahlawanan dan kebesaran macam apakah yang di sandang oleh tiga kata ini:

Bilal bin Rabbah?

la adalah seorang laki-laki Habasyah berkulit hitam. Takdir telah menjadikannya sebagai seorang budak milik beberapa orang dari Bani Jumah di Mekah. Pasalnya, ibunya adalah salah seorang budak perempuan milik mereka. la menjalani hidup sebagai budak yang tidak berbeda dengan budak-budak lainnya.

Hari-harinya berlalu seperti itu-itu juga. Tidak ada satu hari pun yang istimewa baginya dan tidak ada satu harapan pun yang ia cita-cita untuk hari esok.

Mendengar Nama Muhammad

Cerita tentang nama Muhammad mulai terngiang di telinganya, ketika penduduk Mekah mulai ramai membicarakannya dari mulut ke mulut. Di samping itu, ia juga mendengarkan pembicaraan tuannya dan para tamunya, terutama tuannya yang bernama Umayah bin Khalaf, salah seorang sesepuh Bani Jumah, yaitu suatu kabilah yang dipertuan oleh Bilal.

Bilal sering mendengar Umayah membicarakan Muhammad, baik dengan kawan-kawannya maupun dengan anggota sukunya, hingga keluar kata-kata buruk, yang penuh dengan kemarahan, tuduhan, dan kebencian. Dari sela- sela kemarahan yang meluap-luap itu, telinga Bilal menangkap ciri-ciri yang menggambarkan agama baru ini.

Ia merasa bahwa ciri-ciri itu merupakan hal baru yang ada di lingkungan tempat dirinya hidup dan tinggal. Melalui pembicaraan-pembicaraan mereka yang keras penuh kecaman itu, telinga Bilal juga menangkap pengakuan mereka akan kemuliaan, kejujuran, dan amanah yang di miliki oleh Muhammad.

Benar, Bilal bisa mendengar mereka yang sebenarnya kagum dan penuh rasa penasaran terhadap agama yang di bawa oleh Muhammad. Mereka saling berkata satu sama lain, “Muhammad itu tidak akan pernah menjadi pendusta, penyihir, maupun orang gila meskipun hari ini kita terpaksa menuduhnya seperti itu agar bisa menghalangi mereka yang berduyun-duyun mengikuti agamanya”.

Bilal mendengar mereka berbicara tentang sifat amanah yang dimiliki Muhammad, ketepatan janjinya, keberanian dan akhlaknya, serta kecerdasan dan keluasan pikirannya. Bilal juga mendengar mereka saling membisikkan sebab-sebab yang mendorong mereka untuk menentang dan memusuhinya.

Sebab-sebab itu adalah pertama, kesetiaan mereka kepada agama nenek moyang dan kedua, kekhawatiran adanya ancaman terhadap kejayaan kaum Quraisy. Kejayaan yang di maksud adalah kedudukan yang mereka peroleh karena telah menjadi pusat keagamaan sekaligus pusat peribadatan di seluruh Jazirah Arab.

Alasan lainnya adalah rasa iri dan dengki terhadap Bani Hasyim karena mereka tidak terima jika Nabi dan Rasul itu muncul bukan dari pihak mereka.

179 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *