ABU DZAR AL-GHIFARI (1)

Tokoh Gerakan Hidup Sederhana

BAB I

Anekadongeng.com | ABU DZAR AL-GHIFARI. Ia datang ke Mekah dengan penuh kegembiraan. Benar  adanya bahwa debu  dan panasnya udara gurun pasir selama perjalanan telah menyelimutinya dengan rasa sakit dan penderitaan. Akan tetapi tujuan yang ingin di capainya membuat ia lupa akan sakitnya penderitaan dan membangkitkan suka cita dan kegembiraan dalam jiwanya.

la memasuki kota Mekah dengan menyamar sebagai salah seorang dari mereka yang hendak thawaf mengelilingi berhala-berhala besar di Ka’bah. Atau seakan seorang musafir yang tersesat dalam perjalanan. Bahkan, lebih tepatnya beliau seperti orang yang sudah melakukan perjalanan yang sangat jauh dan sedang  beristirahat serta mengisi perbekalan.

Andai penduduk Mekah mengetahui bahwa kedatangannya untuk menemui Muhammad dan mendengarkan dakwahnya, pastilah mereka akan membunuhnya. Tetapi, ia sendiri menganggap semua itu bukan masalah jika mereka sampai membunuhnya. Asalkan setelah ia berjumpa dengan seseorang  yang telah membuatnya rela menempuh perjalanan jauh dan bahaya demi menyatakan iman kepadanya. Barulah pada saat itu ia rela meskipun harus di bunuh, sebab hatinya telah lega dengan kebenaran akan dakwah yang di sampaikan oleh Nabi Muhammad.

Beliau terus berjalan sambil mendengarkan  berbagai berita dari kejauhan. Setiap kali beliau mendengar kelompok orang yang membicarakan Muhammad, ia pun segera mendekati mereka dengan hati-hati. Akhirnya dari perbincangan yang bertebaran beliau bisa mengumpulkan berita yang menunjukkannya dan mempertemukannya dengan Muhammad.

Pada keesokan paginya, beliau pergi ke tempat yang di maksud dan menemukan  Muhammad sedang duduk sendirian. Ia pun mendekat dan berkata, “Selamat pagi wahai saudara sebangsa.” “Wa’alaikumusalam, wahai sahabat,” jawab beliau dengan tenang. “Lantunkanlah hasil gubahanmu,” pinta Abu Dzar dengan penasaran. “Itu bukanlah syair yang bisa aku gubah, tetapi al-Qur’an yang mulia,” jawab Rasulullah “Kalau begitu, tolong bacakan untukku!”, kata Abu Dzar.

Rasulullah kemudian membaca al-Qur’an, sedangkan Abu Dzar mendengar dan menyimaknya dengan penuh perhatian. Tak berselang lama, Abu Dzar berseru, “Asyhadu an la ilaha illallah…wa anyhadu anna Muhammadarasulullah!” “Dari manakah asalmu, wahai saudara sebangsa?”, tanya Rasulullah kepada-nya.

29 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *