BAB III
Abu Dzar merupakan seorang yang pandangannya tajam hingga mampu melihat kebenaran. Di riwayatkan dari Abu Dzar bahwa di rinya adalah salah seorang yang mengingkari penyembahan terhadap berhala pada zaman jahiliyah. la mempunyai keyakinan terhadap ketuhanan dan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Pencipta dan Mahaagung.
Hal itu terbukti begitu ia mendengar kemunculan seorang Nabi yang merendahkan berhala-berhala dan orang-orang yang menyembahnya serta menyeru untuk menyembah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa, ia pun bergegas menyiapkan bekal dan menempuh perjalanan jauh untuk menemuinya.
Abu Dzar telah memeluk Islam tanpa di tunda-tunda lagi. Urutannya di kaum Muslimin menempati posisi ke lima atau ke enam. Dengan demikian, Abu Dzar telah masuk Islam pada masa-masa awal, bahkan pada saat-saat pertama agama Islam lahir.
Ketika Abu Dzar memeluk Islam, Rasulullah masih mendakwahkan Islam secara di am-diam. Beliau mebisikkan dakwah itu kepada Abu Dzar dan kepada lima orang lainnya yang telah beriman bersamanya. Bagi Abu Dzar, tidak ada pilihan lain yang bisa di lakukannya ketika itu selain merahasiakan keimanannya lalu secara di am-diam meninggalkan Mekah dan kembali pada kaumnya.
Namun, Abu Dzar yang nama aslinya adalah Jundub bin Janâdah adalah seorang yang “keras” dan revolusioner. Di rinya seolah-olah tercipta untuk menetang setiap kebatilan yang ada di mana pun ia berada. Kini kebatilan itu berada di hadapannya dan di saksikan langsung oleh kedua matanya sendiri. Ia melihat batu-batu yang di susun oleh penyembahnya, yang lebih dulu lahir daripada batu yang di sembah tersebut. Dengan menundukkan kepala dan merendahkan akal, mereka menyerunya: “Labbaik… Labbaik!”
Memang benar bahwa saat itu, Rasulullah masih memilih berdakwah secara di am-diam. Akan tetapi, harus ada suatu teriakan keras yang di kumandangkan oleh pemberontak ulung ini sebelum ia beranjak pergi. Baru saja masuk Islam, Abu Dzar bertanya kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku?”
