BAB IV
“Pulanglah kepada kaummu hingga ada perintahku nanti,” jawab Rasulullah. Namun, Abu Dzar menjawab, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan- Nya, aku tidak akan pulang sebelum kuteriakkan Islam di dalam masjid.” Bukankah sudah saya katakan kepada Anda? Itulah tabiat pemberontak berjiwa revolusioner.
Apakah pada saat terbukanya dunia baru, secara gamblang yang jelas terlukis pada pribadi Rasulullah yang di imaninya. Beserta dakwah yang ia dengar langsung dari beliau, apakah pada saat seperti itu ia mampu pulang ke tengah keluarganya dalam keadaan terdiam seribu bahasa?. Sungguh hal itu di luar kemampuannya.
Saat itulah, Abu Dzar masuk ke dalam Masjidil Haram lalu menyeru dengan suara sekeras-kerasnya, “Asyhadu an la ilaha illallah… wa asyhadu anna Muhammadarasulullah!” Sejauh yang kita ketahui, teriakan Abu Dzar ini merupakan teriakan pertama tentang agama Islam yang meruntuhkan kesombongan tokoh- tokoh Quraisy dan memekakkan telinga mereka.
Teriakan itu di kumandangkan oleh seorang laki-laki asing yang tidak di perhitungkan di Mekah dan tidak memiliki keluarga serta pelindung. Akibatnya, ia pun menghadapi suatu perlakuan yang sebenarnya sudah dapat ia perkirakan sebelumnya. Orang-orang musyrik segera mengepung dan memukulinya hingga jatuh tersungkur.
Berita itu segera terdengar oleh Abbas, paman Nabi. Ia bergegas medatangi tempat kejadian tersebut. Namun, ia tidak mampu menyelamatkan Abu Dzar dari cengkeraman mereka, kecuali dengan pendekatan diplomatis yang cerdas. la berkata kepada mereka, “Wahai kaum Quraisy, kalian adalah bangsa pedagang yang selalu melewati kampung Bani Ghifar. Laki-laki ini adalah salah seorang warganya. Jika ia menghasut kaumnya atas kalian, pastilah mereka bisa merampok kafilah-kafilah kalian nantinya!
