XXII
Ibnu Mas’ud kemudian duduk untuk menceritakan kepada para sahabatnya maksud dari kalimat pujian yang di ucapkannya itu. “Engkau berjalan seorang diri, meninggal seorang diri, dan kelak di bangkitkan seorang diri.”
Ucapan itu terjadi ketika Perang Tabuk pada tahun kesembilan setelah hijrah. Rasulullah telah memerintahkan (kaum Muslimin) untuk menghadapi bangsa Romawi yang pada saat itu mulai membuat makar dan konspirasi untuk menyerang umat Islam.
Hari-hari saat umat di seru untuk berjihad ketika itu adalah hari-hari yang sulit dan krisis. Jarak yang akan di tempuh pun sangat jauh di samping musuh yang di hadapi cukup menakutkan. Hal itu pula yang membuat sebagian kaum Muslimin menolak untuk pergi dengan berbagai macam alasan.
Rasulullah dan para sahabat pada akhirnya berangkat di sertai sebagian orang yang ikut dalam kondisi setengah terpaksa. Semakin jauh jarak perjalanan, semakin berat pula penderitaan yang harus hadapi. Jika ada seseorang yang tertinggal, para sahabat melapor.
“Wahai Rasulullah, si fulan telah tertinggal.” Rasulullah menjawab, “Biarkan saja ia. Seandainya ia membawa kebaikan untuk kalian, Allah pasti akan menyusulkannya kepada kalian. Jika tidak, Allah telah membebaskan kalian darinya.”
Beberapa orang mencari-cari, tetapi mereka tidak menemukan Abu Dzar. Mereka pun melapor kepada Rasulullah, “Abu Dzar tertinggal, keledainya. menyebabkan di rinya terlambat.” Rasulullah pun menjawab seperti jawaban sebelumnya. Unta Abu Dzar menjadi lemah karena kelaparan, haus, dan panas hingga langkahnya kian lunglai karena lelah.
Abu Dzar mengerahkan segala cara dan tenaga untuk mendorong untanya agar berjalan cepat. Namun, kelelahan telah memperberat unta tersebut. Abu Dzar berpikir bahwa jika terus demikian, ia akan tertinggal jauh dari kaum Muslimin hingga kehilangan jejak mereka.
XXIII
Akhirnya, ia pun turun dari punggung untanya lalu mengambil barang-barang bawaannya dan memikulnya di atas pundaknya sendiri. Ia meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki dan mengayunkan langkahnya dengan cepat di tengah padang pasir yang panas itu agar bisa menyusul Rasulullah dan para sahabatnya.
Kesokan harinya saat kaum Muslimin berhenti untuk sekadar istirahat, salah seorang dari mereka melihat kepulan debu yang membubung menyembunyikan bayang-bayang seorang lelaki yang berjalan dengan mempercepat langkahnya. Orang yang melihat itu pun berkata, “Wahai Rasulullah, ada seorang lelaki yang berjalan seorang diri.” Rasulullah menjawab, “Mudah-mudahan orang itu Abu Dzar!”
Mereka kembali melanjutkan perbincangan sambil menunggu kedatangan sosok lelaki yang hampir saja tiba setelah menempuh jarak perjalanan sekian jauhnya, memisahkan di rinya dengan mereka. Pada saat itulah, mereka tahu siapa orang itu.
Secara perlahan, sang musafir yang agung itu pun mendekati mereka. Ia melangkah dengan berat di atas pasir yang membara, membawa beban di atas pundaknya. Namun, ia tampak bahagia penuh harapan karena bisa menyusul kafilah penuh berkah itu dan tidak tertinggal oleh Rasulullah dan saudara- saudaranya seperjuangan.
Ketika ia tiba di tengah kafilah pertama, seseorang berteriak, “Wahai Rasulullah, demi Allah, ia adalah Abu Dzar!” Sementara itu, Abu Dzar berjalan mendekati Rasulullah hingga begitu Rasulullah melihatnya, tersungginglah senyuman penuh haru dan belas kasih dari bibir beliau yang penuh berkah. Beliau bersabda, “Semoa Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan seorang diri, meninggal seorang diri, dan kelak di bangkitkan seorang diri.”
Dua puluh tahun setelah hari itu, atau lebih, Abu Dzar meninggal seorang diri di tengah padang pasir Rabadzah. Ia meninggal setelah di rinya menempuh suatu perjalanan hidup luar biasa yang tidak seorang pun sanggup menandinginya.
Dalam sejarah, ia muncul seorang diri, baik dalam kebesaran zuhudnya maupun keteguhan dalam pencapaian citanya. Selanjutnya, ia pun akan di bangkitkan di sisi Allah seorang diri dengan tumpukan kemuliaan dan jasa-jasanya yang tak terhingga sampai tidak memberikan tempat kepada seorang pun di sisinya.

Thank you for your sharing. I am worried that I lack creative ideas. It is your article that makes me full of hope. Thank you. But, I have a question, can you help me?