ABU DZAR AL-GHIFARI (3)

BAB XVII

Aku akan bersabar dengan mengharap ridha-Nya dan sadarkan diri karena aku meyakini bahwa itu adalah yang terbaik bagiku. Andai Utsman menggiringku dari ujung barat hingga ujung timur, aku pasti mendengar dan taat. Aku akan bersabar dengan mengharap ridha-Nya dan sadarkan diri bahwa itu adalah yang terbaik bagiku.

Bahkan, andai Utsman pulangkan aku ke rumahku, aku pasti mendengar dan taat. Aku akan bersabar dengan mengharap ridha-Nya dan sadarkan diri karena aku meyakini bahwa itu adalah yang terbaik bagiku.”

Itulah ia seorang pahlawan yang sama sekali tidak menghendaki tujuan duniawi. Karena itu, Allah memberikan mata hati yang tajam kepadanya hingga mampu memahami malapetaka dan bahaya tersembunyi di balik pemberontakan bersenjata sehingga ia pun menghindarinya.

Namun, ia juga menyadari dampak dan bahaya yang akan terjadi jika ia hanya berdiam diri, tidak angkat suara, menyaksikan berbagai penyimpangan tersebut terjadi.

Karena itu, ia tidak tinggal diam. ABU DZAR AL-GHIFARI mengangkat suaranya, bukan pedangnya, demi menyampaikan kalimat yang benar dan kata-kata yang tegas. Tanpa ada kepentingan (pribadi) yang mendorongnya atau kekhawatiran atas akibat yang akan menghalanginya.

Abu Dzar telah memusatkan diri untuk memberi perlawanan secara damai di samping senantiasa tekun beribadah. Ia menghabiskan seluruh sisa hidupnya untuk mengawasi kesalahan dan berbagai bentuk penyimpangan yang berkaitan dengan harta dan kekuasaan.

Pasalnya, keduanya memiliki daya tarik dan sumber fitnah yang membuat Abu Dzar khawatir akan menimpa saudara-saudaranya yang telah memikul bendera Islam bersama Rasulullah dan tetap berkewajiban memikulnya untuk seterusnya.

Selain itu, kekuasaan dan harta juga merupakan urat nadi kehidupan bagi umat dan masyarakat. Jika keduanya telah di salahgunakan, nasib manusia pun akan terjerumus dalam ancaman yang besar.

107 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Comment