ABU DZAR AL-GHIFARI (3)

BAB XX

Pada suatu hari ABU DZAR AL-GHIFARI duduk untuk menyampaikan sebuah hadis. la berkata, “Kekasihku telah mewasiatkan tujuh hal kepadaku:

  1. Beliau memerintahkanku agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri kepada mereka
  2. Beliau memerintahkanku agar melihat kepada orang yang lebih rendah dariku dan bukan kepada orang yang lebih tinggi dariku
  3. Beliau memerintahkanku agar tidak meminta sesuatu pun kepada orang lain
  4. Beliau memerintahkanku agar menyambung tali silaturahmi
  5. Beliau memerintahkanku agar mengatakan kebenaran meskipun pahit
  6. Beliau memerintahku agar dalam menjalankan agama Allah tidak takut celaan orang yang mencela
  7. Beliau memerintahkanku agar memperbanyak bacaan: ‘la haula wa la quwwata illa billâh (tiada daya dan upaya selain karena Allah)”,”

Abu Dzar selalu melaksanakan pesan tersebut dan menjalani hidup sejalan dengannya hingga ia menjadi simbol nurani bagi umat dan kaumnya. Imam Ali berkata, “Hari ini sudah tidak ada lagi orang yang tidak takut terhadap celaan: orang yang mencela dalam menegakkan agama Allah selain Abu Dzar.”

la hidup untuk melawan penyalahgunaan kekuasaan dan penumpukan harta kekayaan. Ia hidup untuk merobohkan yang salah dan membangun yang benar. la hidup dengan tekun untuk mengemban tanggung jawab memberi nasihat dan peringatan.

Ketika orang-orang melarang ABU DZAR AL-GHIFARI untuk memberi fatwa, suaranya justru semakin keras meneriakkan fatwa. Kepada orang-orang yang melarangnya, Abu Dzar berkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, andai kalian letakkan pedang di leherku. Tetapi aku merasa masih ada kesempatan untuk meyampaikan ucapan yang kudengar dari Rasulullah, niscaya aku akan menyampaikannya sebelum kalian menebas batang leherku.”

Aduhai, andai saja saat itu kaum Muslimin mendengar tutur kata dan nasihat Abu Dzar, pasti matilah berbagai fitnah itu sebelum lahir dan berkobar berlarut-larut. Fitnah yang kemudian meluas dan menjadi ancaman serius itu telah mengantarkan negara dan masyarakat Islam ke dalam berbagai bahaya yang begitu besar.

Sekarang Abu Dzar sedang menghadapi sakratul maut di Rabadzah, suatu tempat yang ia pilih sebagai tempat kediamannya setelah terjadinya perbedaan pandangan dengan Utsman Karena itu, marilah kita tengok ke sana untuk mengucapkan salam perpisahan kepada orang besar ini dan menyaksikan akhir dari kehidupannya yang menyilaukan.

107 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Comment