ABU DZAR AL-GHIFARI (3)

Tokoh Gerakan Hidup Sederhana

BAB XVI

Anekadongeng.com | ABU DZAR AL-GHIFARI. Dari hasil dialog dengan sahabatnya itu dan berbagai berita yang di terimanya dari segenap pelosok yang menyatakan dukungan sebagian besar masyarakat terhadap pendapat-pendapat Abu Dzar.

Utsman menyadari betul bahaya dan pengaruh dakwah yang di bawa oleh ABU DZAR AL-GHIFARI. Oleh sebab itu, Utsman mengambil keputusan untuk membatasi gerak dakwah Abu Dzar dengan memintanya agar menetap di Madinah..

Dengan halus, Khalifah Utsman menawarkan keputusan itu kepada Abu Dzar. berkata, “Tinggallah di sini bersamaku. Unta-unta gemuk yang mengantarkan susu tiap pagi dan sore telah di sediakan untukmu.” Akan tetapi, Abu Dzar menjawab, “Aku tidak memerlukan dunia kalian.”

Benar, ABU DZAR AL-GHIFARI tidak memerlukan dunia manusia karena ia adalah salah seorang golongan orang suci yang mencari kekayaan ruhani dan menjalani kehidupan untuk memberi, bukan untuk meminta. Akhirnya, ia meminta izin kepada Khalifah Utsman untuk pergi ke Rabadzah maka Utsman pun mengizinkan.

Dalam suasana pertentangan yang tajam itu, ABU DZAR AL-GHIFARI tetap beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam relung jiwa yang paling dalam, ia selalu mengingat nasihat Rasulullah agar ia tak menggunakan senjata. Nasihat berharga yang di sampaikan oleh Rasulullah itu seolah menggambarkan segala macam peristiwa dan masa depan yang akan di hadapi oleh Abu Dzar.

Karena itu, Abu Dzar pun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat menyaksikan sebagian orang yang gemar membangkitkan fitnah. Dengan menjadikan kata-kata dan dakwahnya sebagai alat untuk mendukung ambisi dan rekayasa licik mereka.

Suatu hari saat ia berada di Rabadzah, datanglah delegasi dari Kufah yang memintanya untuk mengibarkan bendera pemberontakan kepada Khalifah Utsman. Seketika itu Abu Dzar menghardik mereka dengan kalimat yang tegas. “Demi Allah, andaikan Utsman menyalib tubuhku di atas kayu yang paling tinggi atau di atas gunung sekalipun, aku pasti mendengar dan taat.

25 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *