Sunan Giri

Sebagai Pemimpin Kaum Putihan

Dalam menentukan hukum agama yang pada saat itu memang sedang menghadapi ujian, karena  adanya masalah ummat yang pelik, beliau sangat berhati-hati, beliau kuatir terjerumus pada jurang kemusyrikan. Itulah sebabnya beliau sangat berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Ibadah menurut beliau haruslah sesuai dengan ajaran Nabi, tidak boleh di campur dengan berbagai kepercayaan lama yang justru bertentangan dengan agama Islam. Karena mahirnya beliau di bidang ilmu fiqih maka beliau mendapat sebutan Sultan Abdul Fakih. Sedangkan di bidang tauhid beliau juga tidak kenal kompromi dengan adat istiadat dan kepercayaan lama. Kepercayaan dari Hindu,Budha atau animesme serta dinamisme harus di kikis habis. Jadi adat istiadat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam harus di hilangkan agar kelak tidak menyesatkan ummat.

Pelaksanaan syariat Islam di bidang agama haruslah sesuai dengan ajaran aslinya yang ada di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Karena sikapnya ini maka Sunan Giri dan pengikutnya di sebut kaum Putihan atau Islam Putih. Islam Putihan ini memiliki arti di dalam beragama harus mengikuti jalan lurus, putih seperti ajaran aslinya. Pemimpin kaum putihan adalah Sunan Giri yang di dukung oleh Sunan Ampel dan Sunan Drajad.

Kalau ada istilah Islam Putihan tentu saja ada Islam Abangan, Islam Abangan ini adalah istilah bagi para pengikut Sunan Kalijaga yang di dukung oleh Sunan Bonang. Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati dan Sunan Muria. Tujuan dari aliran Islam abangan ini adalah untuk mempercepat siar agama islam keseluruh penduduk tanah Jawa. Agar semua rakyat dapat menerima agama Islam.

187 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *