Kesaktian Raden Paku
Walaupun perkataan ini agak konyol tetapi benar dan masuk akal, demikian pemiikiran Abu Hurairah. Kapal itupun kemudian di isi dengan karung-karung yang berisikan batu dan pasir. Sekedar untuk menjaga keseimbangan kapal agar tidak karam di hantam badai.
Akhirnya mereka dapat berlayar kembali hingga di pantai Gresik dalam keadaan selamat. Tapi hati Abu Hurairah menjadi kebat kebit sewaktu berjalan meninggalkan kapal untuk menghadap Nyai Ageng Pinatih. Dugaan Abu Hurairah memang tepat.
Nyai Ageng Pinatih langsung terbakar emosinya karena mendengar perbuatan Raden Paku yang di anggap kelewatan tidak normal itu. “Ibu jangan terburu marah-marah,” kata Raden Paku. “Lebih baik kita lihat dulu apa isi karung-karung di dalam kapal itu?”
“Apa yang perlu di lihat lagi, Abu Hurairah tidak pernah sekalipun berbohong kepadaku. Pasir dan juga batu apa susahnya di Gresik ini. Aku sama sekali tidak keberatan barang dagangan itu kamu sedekahkan kepada penduduk Banjar yang sedang menderita, tapi buat apa pasir dan batu itu?” “Sebaiknya ibu lihat lebih dahulu !” pinta Raden Paku. “Sudahlah, jangan terlalubanyak bicara, kamu buang saja pasir dan batu itu. Hanya mengotori karung-karung kita saja !” Hardik Nyai Ageng pinatih.
Tapi ketika awak kapal membuka karung-karung itu, mereka terkejut. Karena isi dari karung-karung tersebut berubah menjadi barang-barang dagangan yang biasanya mereka bawa dari Banjar. Apabila di hitung harganya jauh lebih besar dari barang dagangan yang sudah di sedekahkan. Sejak kejadian itu Nyai Ageng Pinatih tidak pernah berani menganggap sembarangan kepada anak angkatnya tersebut. Dengan keyakinannya kelak Raden Paku akan bisa menjadi orang besar, yang mempunyai banyak kelebihan di banding pemuda-pemuda lainnya.
