Mendirikan Pesantren
Lama-lama kegiatan dagang tersebut tidak memuaskan hatinya. Beliau berkeinginan menyiarkan agama Islam dengan mendirikan pondok Pesantren. Kemudian la meminta izin kepada ibunya untuk meninggalkan dunia perdagangan.
Nyai Ageng Pinatih yang sudah sangat kaya tidak keberatan akan hal itu. Seandainya hartanya di makan setiap hari dengan semua anak dan menantunya tidak akan habis. Terlebih lagi Abu Hurairah yang merupakan orang kepercayaan Nyai Ageng Pinatih sanggup untuk mengurus seluruh kegiatan perdagangan miliknya. Untuk itu Nyai Ageng Pinatih ikhlas melepaskan Raden Paku yang hendak mendirikan pesantren.
Di mulai dengan bertaffakur selama 40 hari 40 malam beliau tidak keluar goa, hanya berdoa dan bermunajat kepada Allah. Tempat di mana Raden Paku bertafakkur hingga saat ini masih ada, yaitu di desa Kembangan dan Kebomas. Seusai bertafakkur Raden Paku teringat akan pesan ayahnya pada waktuy di Negeri Pasai. Kemudian ia pun berkeliling untuk mencari daerah yang tanahnya mirip dengan tanah yang di berikan oleh ayahnya saat di Negeri Pasai.
Setelah melewati desa Margonoto, sampailah beliau di daerah perbukitan yang berhawa sejuk, dan membuat hatinya terasa damai. Kemudian beliau mencocokan tanah yang di bawa dengan tanah di tempat tersebut. Ternyata jenis tanahnya cocok sekali. Maka di desa Sidomukti itulah kemudian beliau mendirikan pesantren. Di karenakan tempat itu dataran tinggi atau pegunungan maka di beri nama pesantren Giri.
