Aku lantas merangkul beliau dan menciumnya sambil menangis. Rasulullah menyambutku. Aku pun segera duduk di hadapan beliau lalu kuceritakan kisahku kepada beliau sebagaimana tadi yang telah kuceritakan kepada kalian. Kemudian aku masuk Islam, tetapi statusku sebagai budak menjadi penghalang antara aku dan mereka yang terlibat di dalam Perang Uhud dan Perang Badar. Pada suatu hari, Rasulullah bersabda, “Mintalah kepada majikanmu agar ia bersedia memerdekakanmu dengan menerima uang tebusan.”
Aku mendatangi majikanku dan meminta agar ia membebaskanku sebagaimana yang diperintahkan oleh Rasulullah. Sementara itu, Rasulullah menyuruh para sahabat untuk membantuku dalam hal keuangan. Akhirnya, Allah pun memerdekakan diriku hingga aku bisa hidup sebagai seorang muslim yang merdeka dan terlibat bersama Rasulullah dalam Perang Khandaq dan seluruh peristiwa lainnya.”
BAB VII
Dengan kata-kata yang indah dan gamblang, Salman al-Farisi mengisahkan kepada kita petualangannya yang suci dan mulia. Yaitu petualangan saat beliau mencari hakikat kebenaran agama yang pernah dengarnya. Ia ikhlas berjuang karena Allah. Hingga pada akhirnya sampai kepada agama Allah dan menjadi jalan hidupnya dalam menjalani roda kehidupan.
Jadi, manusia ulung seperti apakah Salman al-Farisi ini? Prestasi apa saja yang telah diraih oleh beliau yang selalu haus terhadap kebenaran ini? Manusia macam apakah yang memiliki tekad kuat hingga dirinya mampu menghadapi berbagai rintangan yang bisa ia tundukkan dan mengubah sesuatu yang mustahil menjadi mungkin baginya?. Ketundukan dan loyalitas beliau pada kebenaran, yang membuat beliau secara patuh meninggalkan harta dan kemuliaan ayahnya ke dalam sesuatu yang baru dengan segala beban dan kesulitannya. Hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu negeri ke negeri lain, dengan tegar bekerja keras dan tekun beribadah.
Mata hatinya yang tajam selalu menyingkap hikmah yang ada pada manusia, kehidupan, dan beragam jalan hidup yang mereka tempuh. Ia selalu menjaga keteguhannya yang luar biasa demi suatu kebenaran. Pengorbanan yang mulia ia jalani demi sampai pada hidayah Allah, bahkan untuk itu ia rela sampai- sampai dirinya dijual sebagai budak. Akhirnya, Allah memberinya balasan yang setimpal hingga dipertemukanlah Salman dengan kebenaran (Islam) dan Rasul-Nya. Allah memberi karunia kepada beliau umur panjang sehingga dapat menyaksikan secara langsung panji-panji Allah berkibar di seluruh penjuru bumi. Dan umat Islam memenuhi seluruh penjuru wilayahnya dengan hidayah, keadilan dan kemakmuran.
BAB VIII
Apakah yang kita harapkan dengan keislaman seorang lelaki yang memiliki tekad dan kesungguhan seperti itu?. Sungguh keislaman Salman Al-Farisi adalah keislaman orang-orang utama dan takwa. Dalam kezuhudan, kecerdasan, dan ke-wara’- annya, Beliau sangat mirip dengan Umar bin Khaththab.
la pernah tinggal beberapa hari bersama Abu Darda’dalam satu rumah. Abu Darda selalu bangun pada malam hari dan berpuasa pada siang harinya. Salman Al-Farisi tidak sepakat dengan cara ibadahnya Abu Darda yang berlebihan seperti itu. Pada suatu hari Salman Al-Farisi mencoba untuk menguji keteguhan Abu Darda untuk berpuasa sunnah. Abu Darda justru menjawab, “Akankah engkau melarangku berpuasa dan shalat karena Allah?” Salman Al-Farisi menjawab, “Sungguh kedua matamu memiliki hak atas dirimu begitu pula keluargamu memiliki hak atas dirimu. Berpuasalah dan berbukalah, shalatlah dan tidurlah!” Kemudian kejadian itu terdengar oleh Rasulullah maka beliau bersabda, “Sungguh Salman telah dipenuhi dengan ilmu.”
