Pada suatu hari, ketika aku sedang duduk di atas pohon kurma, tiba-tiba seorang laki-laki Yahudi dari keluarga pamannya datang menghampirinya dan berkata kepadanya: ‘Semoga Allah memerangi Bani Qailah! Mereka kemudian berkumpul dan mengerumuni seorang laki-laki yang baru datang dari Mekah. Dan mereka meyakini bahwa ia adalah seorang nabi.’
BAB V
Demi Allah, begitu mendengar ucapan laki-laki tersebut, tubuhku tiba-tiba menggigil hingga pohon kurma pun ikut bergetar dan hampir aku jatuh menimpa majikanku itu. Aku segera melompat turun dan bertanya: ‘Apa yang engkau katakan? Ada berita apakah?’ Tuanku mengangkat tangannya dan menamparku dengan sangat keras. la berkata: ‘Ini bukan urusanmu, kembalilah bekerja!’ Aku pun segera kembali bekerja.
Ketika sore hari, aku mengemas semua barang milikku lalu aku pergi untuk menemui Rasulullah di Quba. Aku ingin segera menemui beliau yang sedang di temani oleh beberapa sahabat. Kemudian aku berkata: ‘Sungguh tuan-tuan adalah orang-orang yang sedang dalam perantauan dan berkebutuhan. Aku memiliki persediaan makanan yang telah kuniatkan untuk sedekah. Setelah mendengar keadaan tuan-tuan, aku berpikir bahwa tuan-tuanlah orang yang paling berhak menerima makanan ini. Aku pun bergegas menuju tempat ini.
Selanjutnya, kuletakkan makanan yang kumaksud di hadapan beliau. Dan Rasulullah bersabda kepada para sahabatnya: Makanlah dengan terlebih dahulu menyebut nama Allah. Sedangkan, beliau hanya diam dan tak menyentuh makanan tersebut. Aku berkata dalam hati: Demi Allah, ini merupakan tanda yang pertama. Sungguh beliau tidak mau memakan harta sedekah.
Aku pun pulang ke rumah dan keesokan harinya aku kembali menemui Rasulullah dengan membawa makanan. Kemudian aku berkata kepada beliau, “Kemarin saya melihat tuan tidak berkenan untuk makan sedekah”. Dan hari ini saya memiliki sesuatu yang akan saya persembahkan kepada tuan sebagai hadiah. Selanjutnya, kuletakkan makanan itu di hadapan beliau. Beliau bersabda kepada para sahabat: ‘Makanlah dengan menyebut nama Allah. Kini beliau pun ikut makan bersama mereka. Aku kembali bergumam dalam hati: ‘Demi Allah, ini merupakan tanda kedua. Beliau bersedia menerima hadiah.”
BAB VI
Aku kemudian pulang dan diam beberapa lama. Lalu aku kembali mendatangi Rasulullah dan menemukan beliau sedang mengiringi jenazah di Baqi’ bersama para sahabat. Beliau memakai dua helai kain, yang satu di pakai sebagai sarung dan yang satunya lagi di jadikan selendang.
Aku ucapkan salam kepada beliau lalu aku berpaling untuk melihat ke atas pundaknya. Ternyata beliau mengetahui bahwa aku sengaja untuk berbuat demikian. Saat beliau menyingkapkan kain burdahnya sungguh terlihat tanda (kenabian) itu ada di kedua pundaknya. Yaitu cap kenabian yang dulu pernah di sebutkan oleh pendeta.
