SALMAN AL-FARISI ( II )

Sang Pencari Kebenaran

BAB I

Anekadongeng.com | SALMAN AL-FARISI. “Aku adalah seorang lelaki yang berasal dari Ashbahan, di sebuah desa yang bernama Jey (Jayyan). Ayahku adalah penguasa di daerah itu dan aku adalah anak yang paling beliau cintai. Aku adalah penganut yang taat pada agama Majusi. Tugas di berikan kepadaku adalah penjaga api yang bertanggung jawab nyalanya api dan tidak boleh membiarkan api nya padam.

Ayahku memiliki sebuah ladang, dan suatu hari, aku di suruhnya untuk pergi ke ladang tersebut. Dalam perjalanan ke ladang, aku melewati gereja milik kaum Nasrani. Akupun mendengar mereka sedang beribadah, lalu aku pun masuk ke dalam untuk melihat apa yang sedang mereka kerjakan.

Aku mengagumi  cara mereka menjalankan ibadah, lalu di dalam hatiku  berkata: ‘agama Ini lebih baik dari agama yang ku anut selama ini. Aku pun tak meninggalkan mereka hingga matahari terbenam dan tidak jadi pergi ke ladang ayahku serta tidak pula pulang hingga ayah mengirim utusan untuk mencariku.

Karena tertarik dengan tata cara peribadatan kaum Nasrani, aku pun bertanya kepada orang-orang Nasrani tentang asal-usul agama mereka. Mereka menjawab: ‘Dari Syam. Setelah sampai di rumah, aku menceritakannya kepada ayahku: ‘Ayah…., Aku berjumpa kelompok orang yang sedang menjalankan sembahyang di dalam gereja. Aku pun tertarik dengan cara peribadatan mereka. Aku memperhatikan bahwa agama mereka terlihat lebih baik daripada agama kita. Kami pun berdebat hingga akhirnya ayah merantai dan membelenggu kakiku.

Lalu aku mengirimkan utusan kepada orang-orang Nasrani, bahwa aku telah memeluk agama nasrani. Lalu aku meminta kepada mereka apabila ada kafilah dari Syam yang datang agar mereka memberitahukanku. Dan sebelum para kafilah itu kembali supaya aku bisa pergi bersama mereka ke Syam. Mereka benar-benar mengabulkan permintaanku itu. Kemudian , aku hancurkan rantai  yang mengikat kakiku. Dan aku pun melarikan diri mengikuti mereka menuju Syam.

Sesampainya di kota Syam, aku mencari tahu siapa ulama mereka. Dan aku di beritahu bahwa pemimpin  serta pemilik gereja mereka adalah uskup. Aku segera menemuinya dan menceritakan kisahku.

BAB II

Pada akhirnya, aku pun tinggal di rumahnya  menjadi pelayan sekaligus belajar mengerjakan ajaran mereka. Hanya saja, uskup ini adalah seorang laki-laki yang tidak baik dalam beragama. DIa memungut sedekah dari para jamaahnya alasan akan di bagikan, tetapi pada kenyataanya ia simpan untuk kepentingan dirinya sendiri.

29 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *