Tak lama kemudian, uskup ini meninggal dunia. Kaum Nasrani mengangkat uskup lain untuk menggantikannya. Kali ini, aku belum pernah menemukan seorang pun yang lebih baik daripadanya dalam beragama. Uskub baru ini dalam tindakannya lebih mementingkan akhirat daripada dunia. Penampilannya juga sederhana,pada tiap harinya hanya berpakaian lusuh. Aku sangat mencintainya sedemikian rupa hingga aku merasa tidak pernah ada orang lain yang lebih kucintai sebelum itu selain di rinya.
BAB III
Pada saat ia hendak wafat, aku sempat mengajukan pertanyaan: ‘Jika ajalmu tiba, apakah yang harus aku lakukan dan kepada siapa aku kauserahkan?’. Lalu Ia menjawab, “Wahai anakku, aku tidak pernah mengenal seseorang yang bias menyamai diriku, kecuali seseorang yang berada di Maushil.”
Ketika ia uskup tersebut wafat, aku pun menemui orang Maushil itu. Aku menceritakan kepadanya semua pesan dari uskup tadi kemudian aku menetap bersamanya. Ketika ajalnya tiba, aku mengulangi lagi pertanyaanya,” Setelah kamu wafat, siapa yang harus aku ikuti?”. Selanjutnya, ia menyuruhku untuk mencari seorang lelaki saleh yang tinggal di sebuah wilayah di negeri Romawi. Aku segera bergegas menuju kesana dan tinggal bersama selama waktu yang di kehendaki Allah. Demi memenuhi kebutuhan hidupku, aku beternak sapi dan beberapa ekor kambing.
Ketika ia hendak wafat, aku pun bertanya: ‘Kepada siapa engkau wasiatkan aku?’ la pun menjawab: “Wahai anakku, aku tidak pernah mengenal seorang pun yang keadaanua serupa dengan kita. Akan tetapi, sekarang telah dekat masanya kedatangan seorang nabi yang mengikuti agama Ibrahim yang lurus. la kelak akan hijrah ke suatu negeri yang banyak ditumbuhi kurma dan terletak di antara harratain (nama sebuah tempat di Madinah). Jika kamu dapat menemuinya di sana, lakukanlah! la memiliki tanda-tanda yang jelas, yakni tidak mau makan sedekah, tetapi mau menerima hadiah dan di antara kedua pundaknya terdapat cap kenabian yang jika engkau melihatnya, engkau bisa mengenalinya
BAB IV
Suatu hari, aku bertemu dengan sebuah rombongan. Aku pun bertanya dari mana asal mereka. Dan akhirnya, aku tahu bahwa asal mereka dari Jazirah Arab. Maka aku mengatakan kepada mereka: ‘ Tuan…maukah kalian mengajak aku ke negeri kalian dan akan kuberikan kambing srta sapi ku ini kepada kalian? Mereka menjawab: ‘Baiklah.”
Mereka pun membawaku ikut dalam perjalanan sampai tiba di suatu negeri bernama Wadi al-Qura. Namun, di sana mereka berbuat zalim kepadaku. Mereka menjualku kepada seorang Yahudi. Ketika aku melihat banyak pohon kurma, aku berharap inilah negeri yang dahulu prnsh di gambarkan oleh Uskup kepadaku. Tempat ini yang kelak akan menjadi tempat hijrahnya nabi yang telah di nantikan. Namun, dugaanku itu ternyata belum tepat.
Kemudian aku tinggal bersama orang-orang yang telah membeliku. Hingga pada suatu hari , datanglah seorang Yahudi tang berasal dari Bani Quraizhah. Lelaki itu pun membawa aku hingga sampai ke Madinah. Demi Allah, begitu melihat kota ini aku pun yakin bahwa itulah negeri yang digambarkan kepadaku dulu. Akhirnya aku pun tinggal bersama laki-laki tersebut dan bekerja di sebuah perkebunan kurma miliknya. Rasul itu kemudian datang ke Madinah dan singgah di Bani Amr bin Auf di Quba.
