Sang Petani Dan Watu Maladong

Ternyata Seluruh keluarga kepala suku sudah berkumpul di lapangan belakang rumah mereka.

“Kamu harus melawan putra sulungku”, ujar kepala suku seraya berdiri menyambut kedatangan sang petani. “Jika kau bisa mengalahkannya, berarti kau telah mengalahkan aku”. Dia berkata sambil menepuk nepuk pundak putra sulungnya.

Pertempuranpun langsung di mulai dengan sengit, saling adu kesaktian, keduanya sama-sama tangguh. Tidak terasa sudah 2 jam lebih mereka bertempur, tetapi belum ada tanda-tanda siapa yang jadi pemenang.Akhirnya putra sulung si kepala suku langsung menggunakan jurus andalannya.

Ia mulai memejamkan mata, sambil menunjuk bumi dengan kedua telapak tangannya dan seketika bumi tempat sang petani berdiri berguncang dengan dahsyatnya. Sang petani langsung teringat akan pesan dari si nenek. Ia pun langsung berbaring menyatu dengan bumi sambil tetap memegang tombak Numbu Ranggata di tangan kanannya.

Sang petani merasakan sepertinya  bumi terbelah dan menelan dirinya. Meski awalnya sedikit panik, ia tetap memejamkan mata sambil terus menenangkan diri. Setelah cukup lama merasakan tubuhnya terguncang, lambat laun guncangan itu mereda sedikit demi sedikit, dak akhirnya berhenti. Setelah berhenti total, sang petani mulai membuka mata dan mendapati tubuhnya dalam posisi terlentang di atas tanah tempatnya berdiri. Sang petani lansung bersyukur karena baik baik saja.

Tidak ingin membuang waktu, sang petani lansung mengarahkan tombaknya kearah langit. Tidak berselang lama, hujan petir menyambar seolah-olah membelah langit yang gelap. Sinar yang di timbulkan sungguh menyilaukan mata. Dan sebuah petir yang di sertai dengan suara menggelegar langsung menyambar tubuh lawannya itu. Seketika terlihat tubuh pemuda tersebut hangus terbakar, dan langsung tewas.

Watu Maladong berhasil di dapatkan

Kepala suku beserta seluruh keluarganya menjerit keras. Mereka terkejut dan tidak menyangka melihat kematian sang putranya. Sambil menahan kesedihan yang dalam,kepala suku tetap berjiwa besar dan mengakui kekalahannya. Kemudian ia menyerahkan Watu Maladong  langsung kepada sang petani.

“Batu ini jumlahnya ada tiga”, kata kepala suku sambil menyerahkannya kepada sang petani. “Ketiga batu ini bisa mengeluarkan air di manapun tempat yang kau inginkan. Ketiganya juga bisa menumbuhkan padi, jagung, dan jewawut di atas tanah kelahiranmu kelak”, tambahnya.

Kepala suku dan seluruh keluarganyapun mengantarkan sang petani ke pinggiran desa. Sang petani sangat senang karena sudah berhasil membawa Numbu Ranggata dan Watu Maladong. Selanjutnya ia pun singgah di rumah nenek  yang telah menolongnya. Ia pun langsung berpamitan untuk kembali ke pulau asalnya.

Setelah berpamitan, ia memanjat pohon kelapa yang ada di depan rumah nenek danmulai berterian untuk memanggil penyu. Dan tidak begitu lama penyu pun datang, kemudian sang petani segera naik ke punggungnya. Dengan sekejap mata penyu itupun langsung menghilang di lautan menuju ke arah pulau sumba.

Watu Maladong yang telah di bawa oleh sang petani memberikan empat sumber mata air di pulau Sumba. Ke empat mata air tersebut yaitu :

  1. mata air Nyura Lele di Tambolaka
  2. mata air Weetebula di Weetebula
  3. mata air Wee Muu di perbatasan Wewewa Barat dan Wewewa Timur dan
  4. mata air Weekello Sawah di Wewewa Timur yang bentuknya menyerupai juluran lidah seekor naga.

Ke empat sumber mata air tersebut juga bisa menumbuhkan padi, jagung, dan jewawut di tanah Sumba.

84 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *