Titik terang
Di perkampungan itu, sang petani diterima sebagai bekerja oleh seorang penduduk yang cukup kaya. Setiap hari sang petani menyelidiki dan mengumpulkan informasi terkait dengan petunjuk dari nenek. Pada suatu malam sang petani kebetulan mendengarkan percakapan majikannya tentang kepala suku mereka yang menderita sakit.
Ia mendengar bahwa sudah banyak tabib yang berusaha untuk mengobatinya,namun belum ada tanda-tanda kesembuhan. Bahkan tabib-tabib hebat yang di datangkan dari pulau pulau lain, semuanya mengalami kegagalan dalam menyembuhkan sang kepala suku.
Dengan keberaniannya sang petani mengajukan diri untuk membantu mengobati kepala suku itu. Kemudian Ia memohon bantuan majikannya untuk bertemu dengan kepala suku. Dugaan awal sang petani, kepala suku dan keluarganya adalah orang yang selama ini ia cari. Mereka adalah orang-orang sakti yang di ceritakan si nenek.
Pada esok harinya, dengan di temani majikannya, sang petani berhasil bertemu dengan kepala suku. Atas ijin dari keluarga yang sudah mulai putus asa, sang petani di ijinkan untuk melihat dan memeriksa kondisi kepala suku. Rupanya dugaan sang petani itu benar, ia melihat pada perut kepala suku yang terus meneteskan darah.
Kemudian Ia teringat bahwa lokasi luka kepala suku sama persis dengan babi yang kena lemparan tombaknya.“Kalau boleh saya bertanya , apakah luka di perut bapak terkena sebilah tombak ?”, tanya sang petani kepada kepala suku. Kepala suku dan keluarganya yang berada di ruangan itu terkejut.
Mereka tidak menyangka bahwa sang petani mengetahui dengan pasti penyebab sakitnya kepala suku. Akhirnya kepala suku pun mengangguk seraya berkata, “Ya, perutku terkena lemparan tombak”, ujarnya pelan. “Jika kamu berhasil menyembuhkan lukaku, aku berjanji akan memberikan apa saja yang kamu minta”.
“Baiklah..”, besok pagi aku akan kembali lagi dengan membawa ramuan untuk bapak minum”, ujarnya lagi. Kemudian sang petani dan majikannya segera pamit pulang. Dan di sore harinya ,sang petani pergi ke rumah nenek tua di tepi pantai. Sang nenek pun langsung memberikan ramuan untuk mengobati luka kepala suku.
“Apabila kepala suku itu berhasil sembuh, selain meminta tombak Numbu Ranggata, mintalah juga batu sakti miliknya yang bernama Watu Maladong. Batu itu bias menciptakan sumber mata air dan menumbuhkan tanaman palawija di mana saja yang kau kehendaki”, kata si nenek lagi.
Permintaan sang petani
Sang petani sangat tertarik dengan usul si nenek, ia pun menyetujuinya. Si nenek mengajarinya beberapa jurus ilmu lagi, karena si nenek tahu bahwa kepala suku tidak akan menyerahkan Watu Maladong dengan mudah. Kemugkinan ia akan mengajak untuk mengadu kesaktian terlebih dahulu.
