Sang Petani Dan Watu Maladong

Sesampainya di rumah kepala suku, ramuan tersebut langsung di berikan untuk segera di minum. Sungguh ajaib, setelah kepala suku meminum ramuan tersebut, lukanya langsung sembuh. Karena lukanya sudah sembuh, kepala suku sangat senang dan sangat berterima kasih kepada sang petani..

“Apapun yang engkau minta akan kuberikan, sebagai imbalan atas jasamu menyembuhkan aku!”, seru kepala suku kepada sang petani.

“Kalau tidak keberatan, saya ada dua permintaan”. “Yang pertama saya minta tombak yang telah melukaimu di kembalikan kepadaku, karena sesunguhnya tombak itu adalah warisan leluhurku.”Yang kedua aku menginginkan watu maladong milikmu”.

Wajah kepala suku langsung merah padam mendengar ucapan petani. “Berarti ia tahu rahasia keluargaku yang bisa berubah menjadi babi jadi jadian”, dia memikirkan sambil menahan amarah. “Bukankah ia sendiri yang melemparkan tombak ke perutku?”, ujar sang kepala suku di dalam hati sambil menatap tajam sang petani.

“Baiklah..”, dengan suara bergetar kepala suku berkata. “Aku akan mengembalikan tombakmu”, katanya singkat. Tetapi untuk permintaan yang kedua saya mengajukan syarat untuk memberikannya kepadamu. “Kamu harus bisa mengalahkan kesaktianku terlebih dahulu”, kepala suku berkata sambil berdiri. “Apabila kamu setuju, aku tunggu nanti malam di tanah lapang belakang rumahku”.

Sang petani menyetujui persyaratan itu, lalu ia kembali ke rumah nenek sambil membawa tombak Numbu Ranggata yang telah dikembalikan oleh kepala suku.

“Tidak usah takut”, kata si nenek kepada sang petani. “Sesungguhnya kamupun telah memiliki kesaktian tersembunyi  sebagai pemilik tombak Numbu Ranggata”, kata si nenek pelan. “Kamu bisa mendatangkan petir hanya dengan mengarahkan tombakmu ke langit”. “Petir itu akan menyerang dan menyambar siapa saja yang menjadi lawanmu”.

Pertempuran yang menentukan

Sang petani mendengarkan semua kata kata dari dengan seksama.“Satu hal lagi yang perlu kamu ketahui”. “Jurus andalan dari keluarga mereka adalah mengguncang bumi. Jika saat pertarungan tiba-tiba bumi mengguncangmu, kamu diam saja dan menyatulah dengan bumi. Niscaya goncangan bumi akan segera berhenti”, ujar nenek membuka rahasia kepala suku.

Setelah mendengarkan wejangan nenek,  sang petani itu semakin yakin bahwa dirinya akan menang saat bertarung melawan kepala suku. Dan ketika matahari mulai terbenam, ia pun berangkat dengan membawa tombak menuju rumah kepala suku.

84 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *