Tiba tiba ada suara mengejutkan yang menyapa sang petani.“Hai..manusia, apa yang sedang kamu pikirkan?”, tanya seekor penyu yang rupanya bisa berbicara bahasa manusia. Sang petani bertambah bingung, karena ia belum pernah melihat ada hewan yang bisa berbicara layaknya seorang manusia.
Meskipun jantungnya berdebar kencang karena terkejut, sang petani menceritakan kepada penyu apa yang dialaminya. “Jika kamu mau, aku akan mengantarkanmu ke pulau seberang”, penyu menawarkan bantuan kepada sang petani. “Aku yakin, di sana kamu akan menemukan apa yang kau cari”, ujarnya lagi.
Pada mulanya sang petani ragu untuk menerima tawaran penyu tersebut. Namun karena takut di kutuk oleh leluhunya, di karenakan telah menghilangkan tombak pusaka warisan, membuat sang petani akhirnya menyetujuinya. Akhirnya sang petanipun berangkat dengan naik di punggung penyu.
Kemudian si penyu mulai bergerak menyeberangi pulau dengan membawa sang petani. Setelah menempuh satu hari satu malam perjalanan, tibalah sang petani dan penyu di pantai sebuah pulau yang indah.“Semoga kamu bisa segera menemukan apa yang kamu cari disini”, kata penyu. Ketika pamit kepada sang petani, si penyu berkata. “Jika kamu sudah selesai dengan masalahmu dan memerlukanku, panjatlah pohon di pantai ini dan berteriaklah kearah laut, aku akan datang menjemputmu”. Tak lama kemudian penyu itu kembali berenang ke tengah laut.
Pulau Seberang
Lalu sang petani menyusuri pantai sambil berharap bisa menemukan seseorang untuk bertanya. Tidak beberapa dia berjalan, terlihat rumah sederhana tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia segera melangkah menghampiri rumah itu dan mulai mengetok pintu. Sang petani berharap pemilik rumah bisa memberinya petunjuk.
Ternyata pemilik rumah tersebut adalah seorang nenek yang tinggal seorang diri. Nenek tersebut sangat ramah, dan mempersilahkan sang petani untuk duduk serta memberikan sedikit makan dan minum. Kemudian si nenek menanyakan apa tujuan kedatangannya ke pulau iini. Ia mendengarkan cerita sang petani dengan serius sambil sesekali menganggukkan kepala tanda mengerti.
“Aku mengerti ceritamu. Babi yang telah merusak kebunmu merupakan babi jadi jadian dari pulau ini”, kata si nenek. “Mereka mempunyai ilmu gaib dan tinggal berkelompok. Mereka merupakan penguasa di pulau ini”, tambahnya lagi. Sang nenek kelihatan sangat menguasai kondisi penduduk di pulau tempat dia tinggal.
Sang petani merasa sangat senang karena permasalahan babi hutan yang merusak kebun menemui titik terang dengan jawaban nenek tersebut. Namun, sebelum ia bisa membawa pulang tombak Numbu Ranggata ia tak dapat meninggalkan pulau.
Lalu nenek tua melatih sang betani beberapa jurus ilmu sakti yang ia miliki, sang petani merasa beruntung atas pencapaian tersebut. Setelah berlatih selama beberapa hari di rumah nenek tua, sang petani segera melanjutkan perjalanan ke perkampungan yang di tunjukkan oleh si nenek.
