ABDULLAH BIN UMAR

Alasan Tidak Ikut Berperang

Kita telah melakukan itu dan memerangi kaum musyrik sehingga agama hanya semata-mata untuk Allah. Namun, kini untuk tujuan apa kita berperang?

Aku telah berperang sejak banyak berhala-berhala masih memenuhi Masjidil Haram dari pintu hingga ke sudut-sudutnya. Sampai semua berhala itu habis dan berhasil di bersihkan dari tanah Arab. Nah, apakah sekarang kita hendak memerangi orang yang mengucapkan: ‘La llaha illallah”?”

Demikianlah logika dan alasan Ibnu Umar yang di yakininya. Jadi, ia tidak menginginkan untuk  terlibat atau bergabung dalam perang bukan karena takut atau yang lain sebagainya. Melainkan karena menolak untuk membenarkan perang saudara antar-sesama orang yang beriman. Ibnu Umar menentang sikap seorang muslim yang menghunus pedang ke hadapan saudaranya sesama muslim.

Abdullah bin Umar hidup dalam waktu yang panjang. Ia menjumpai hari-hari ketika pintu-pintu keduniawian terbuka lebar bagi kaum Muslimin. Harta benda melimpah ruah dan berbagai peluang jabatan bermunculan di sertai ambisi ingin meraihnya. Namun, pengaruh psikologisnya yang luar biasa mampu mengubah dan menjadi racun pada zamannya.

Pada saat itu kondisi zaman memang penuh dengan berbagai ambi harta, dan fitnah. Tetapi semua itu tidaklah dapat berpengaruh bagi Ibnu Umar. Ia mampu menjalani masa itu sebagai orang yang tetap tekun beribadah dan senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Dengan penuh keyakinan dan ketaatan. Ia sama sekali tidak pernah kehilangan tabiat mulia yang di bentuk dan di asah oleh Islam sejak masa-masa awalnya yang agung dan gemilang

Perubahan karakter kehidupan mulai berubah bersamaan dengan permulaan masa kekuasaan Bani Umayyah. Dan tidak ada seorang pun dapat menghindari perubahan tersebut. Bisa di katakan saat itu Islam telah memasuki zaman perluasan dalam segala hal.

Akhir Hayat Abdullah Bin Umar

Perluasan yang tidak hanya di respons oleh ambisi-ambisi negara semata, tetapi turut pula di respons oleh ambisi-ambisi kelompok dan kepentingan individu. Namun, sekali lagi, di tengah hiruk pikuk godaan dunia yang menawan dan serangan masa yang di hias dengan berbagai perluasan, kekayaan, dan kemewahannya.

Ibnu Umar tetap menjalani hidup bersama keluhuran dan keutamaan yang beliau miliki. la hidup tanpa menghiraukan semua itu, dengan tetap melanjutkan pengembangan ruhaninya yang senantiasa ia jalani.

Dari tujuan hidupnya yang agung, Ibnu Umar telah berhasil meraih apa yang beliau harapkan. Bahkan, orang-orang yang hidup semasa dengannya mengatakan, “Ibnu Umar wafat dan ia memiliki keutamaan yang sebanding dengan Umar, ayahnya.”

Ketika orang-orang silau oleh kilau keutamaan Ibnu Umar, mereka hendak membandingkannya dengan ayahnya yang agung, Umar. Mereka mengatakan, “Umar hidup pada zaman ketika ia memiliki banyak saingan, sedangkan Ibn Umar hidup pada zaman tatkala tidak ada seorang pun yang menyainginya.”

Perbandingan ini terlalu berlebihan, tetapi semoga mendapat ampunan terlebih terhadap orang seperti Ibnu Umar. Adapun Umar adalah orang yang tidak bisa di bandingkan dengan siapa pun. Sungguh tidak mungkin ada yang menandinginya pada setiap zaman dari kaum mana pun.

Pada tahun 73 H tatkala mega merah mulai tampak, pertanda sang surya hendak tenggelam. Sebuah perahu keabadian telah mengangkat jangkarnya dan mulai berlayar ke alam lain.

Bersamaan ar-Rafiq al-A’la perahu itupun membawa  jasad manusia terakhir yang menyaksikan hari-hari turunnya wahyu di Mekah dan Madinah, yaitu Abdullah bin Umar bin Khaththab.

274 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *