Kesederhanaan Abdullah Bin Umar
Pada riwayat yang lain, seorang sahabat menghadiahkan sebuah bejana yang penuh dengan sesuatu kepada Ibnu Umar. Ibnu Umar bertanya, “Apakah itu?”
Sang sahabat menjawab, “Obat manjur yang aku bawakan untukmu dari Ibnu Umar bertanya lagi, “Apa khasiat obat ini?”
Sahabat itu menjawab, “Khasiatnya untuk menghancurkan makanan.”
Ibnu Umar tersenyum dan berkata kepada sahabatnya , “Menghancurkan makanan? Sungguh sejak empat puluh tahun yang lalu, aku sama sekali tidak pernah merasakan kenyang oleh makanan.”
Orang yang tidak pernah kenyang sejak empat puluh tahun ini tidaklah menghindari kenyang karena kemiskinan, tetapi karena zuhud dan wara’. Di samping usaha beliau untuk meniru Rasulullah dan ayahnya, Umar. Ibnu Umar merasa takut jika pada hari Kiamat nanti di katakan kepadanya: “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya.”
Ibnu Umar menyadari bahwa di dunia ini, dirinya hanyalah seorang tamu dan penyeberang jalan. Abdullah bin Umar pernah menceritakan, “Semenjak Rasulullah wafat. aku tidak pernah meletakkan batu bata di atas batu bata yang lain dan tidak pernah menanam satu pun pohon kurma.”
Maimun bin MahrÃ¥n menceritakan, “Aku pernah menemui Ibnu Umar d rumahnya lalu kuhitung nilai (harga) segala sesuatu yang ada di rumah itu. Kasur, permadani , selimut, serta tikar dan segala sesuatu yang ada di rumah itu. Alhasil, kudapati bahwa semuanya tidak sampai 100 dirham.”
Semua itu bukan karena beliau miskin sebab Ibnu Umar adalah orang kaya, bukan juga karena beliau kikir sebab Ibnu Umar adalah seorang dermawan. Semua itu tiada lain adalah karena sifat zuhudnya pada dunia, tidak suka dengan kemewahan, dan keistikamahannya pada kebenaran dalam menjalani kehidupan.
Di Zaman Bani Umayyah
Ibnu Umar di karuniai umur panjang hingga ia masih hidup pada masa Bani Umayyah ketika harta benda melimpah ruah. Kebun-kebun terbentang luas, dan kemewahan menyelimuti kebanyakan rumah kaum Muslimin, terlebih lagi di istana.
Meski demikian, “gunung besar itu” (Ibnu Umar) tetap kukuh dan tidak tergoyahkan tanpa sedikitpun bergeser dari jalurnya. Serta tidak pula pernah melepaskan sifat wara’ dan zuhudnya.
Jika di ingatkan tentang harta dan kesenangan dunia yang ia tinggalkan, Ibnu Umar berkata. “Aku pernah berkumpul dengan para sahabat dalam satu hal. Dan jika aku berbeda dengan mereka, aku sangat khawatir tidak akan bisa menyusul mereka.”
Selanjutnya, beliau mengajarkan kepada mereka bahwa dirinya tidaklah meninggalkan dunia karena tak berdaya. la menadahkan tangan ke langit dan berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu bahwa andai bukan karena takut kepada Mu, pastilah kami rebut dunia ini dari Quraisy, kaum kami.”
Benar, jika beliau tidak takut kepada Tuhannya, pastilah beliau sudah berebut dunia dan menjadi pemenangnya. Akan tetapi, beliau tidak pernah turut memperebutkannya karena dunia sendiri telah datang kepadanya. Mengejar-ngejarnya dengan kesenangan dan bujuk rayunya.
Pernahkan datang rayuan untuk menduduki jabatan khalifah? Berkali-kali jabatan ini di tawarkan kepada Ibnu Umar, tetapi ia selalu menolak. Bahkan, ia diancam akan di bunuh jika tidak mau menerima. Namun, ia semakin keras menolak dan berpaling darinya.
Bujukan Menjadi Khalifah
Imam al-Hasan menceritakan, “Ketika Utsman bin Affan terbunuh, umat berkata kepada Abdullah bin Umar: “Sesungguhnya, engkau adalah pimpinan umat dan putra pimpinan umat. Karena itu, keluarlah bersama kami agar kami bisa mengajak umat untuk membai’atmu’.
Ibnu Umar menjawab, “Demi Allah, andai aku bisa, janganlah sampai ada setetas darah pun yang tertumpah karena aku.”
Mereka berkata lagi. “Engkau harus keluar bersama kami atau kami akan membunuhmu di atas ranjangmu!”
Ibnu Umar menjawab dengan jawaban yang sama. Mereka pun mendorong dan mengancamnya. Namun, Ibnu Umar tetap teguh untuk tidak menerima tawaran tersebut.
Beberapa waktu ketika masa terus berjalan, dan api fitnah kian merajalela, Ibnu Umar selalu menjadi tumpuan harapan untuk perubahan. Masyarakat pun mendesak agar ia mau menduduki jabatan khalifah. Mereka mendatangi Ibnu Umar untuk membai’at, tetapi beliau tetap menolak.
Penolakan ini melahirkan celaan yang di tujukan kepada Ibnu Umar. Namun, sekali lagi ia memiliki logika dan alasannya sendiri yang kuat.
Setelah peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan, keadaan semakin memburuk dan meluas. Sehingga malapetaka dan bahaya pun tidak bisa di hindari. Meskipun tidak tertarik pada pangkat kekhalifahan, sebenarnya Ibnu Umar bersedia menerima tanggung jawab itu dan siap menanggung berbagai risikonya.
Tetapi dengan syarat jika dirinya di pilih oleh seluruh umat Islam dengan sukarela. Namun, kalau sampai ada seorang saja yang di paksa untuk berbaiat dengan ancaman pedang.
Pada saat itu kesepakatan mutlak merupakan hal yang mustahil. Pasalnya, meskipun Ibnu Umar adalah orang terhormat dan kaum Muslimin pun telah berserikat dalam mencintai dan menghormatinya. Tetapi karena luasnya daerah dan letaknya yang berjauhan.
