anekadongeng.com Bali Manik Angkeran dan Selat Bali

Manik Angkeran dan Selat Bali

Menjadi Murid Naga Besukih

Sementara itu,  setelah Sidhimantra sadar bahwa gentanya telah hilang, ia segera menyusul ke Gunung Agung. Ia yakin Manik Angkeran yang mencurinya. Setelah sampai di Gunung Agung, Sidhimantra menyaksikan sesosok tubuh yang telah menjadi abu. Kemudian dia melihat tubuh Naga Besukih menggeliat-geliat sambil menyemburkan api dari mulutnya.

“Apa yang terjadi pada anakku?” ratap Sidhimantra. Naga Besukih menceritakan semuanya pada Sidhimantra.

“Wahai Naga Besukih yang baik hati, akau mohon kepadamu untuk menghidupkan anakku lagi? Berilah ia satu kesempatan lagi untuk memperbaiki dirinya”. Naga Besukih berpikir sebentar, lalu menjawab “Baiklah. Aku akan menghidupkan putramu lagi. Namun, ia tak boleh pulang denganmu. Manik Angkeran harus menjadi muridku dan tinggal di sini. Akan aku didik agar menjadi orang yang baik hati dan berilmu tinggi.”

“Apa pun yang akan engkau lakukan, asal anakku bisa menjadi orang yang balk, maka lakukanlah,” jawab Sidhimantra.

Dengan kesaktiannya, Naga Besukih menghidupkan kembali Manik Angkeran. “Ampuni aku Ayah, ampuni aku Naga Besukih. Aku berjanji tidak akan mengulangi semua perbuatan dan kelakuan burukku,” kata Manik Angkeran.

“Kami mengampunimu, anakku. Tapi kau tak bisa pulang bersama Ayah. Kamu harus di sini bersama Naga Besukih  untuk belajar dan menjadi muridnya agar  kamu menjadi orang yang baik.,” jawab Sidhimantra.

Tak lama kemudian Sidhimantra mengeluarkan tongkat saktinya dan membuat garis untuk memisahkan dia dengan putranya. Tiba-tiba, dari garis itu keluar air yang makin lama makin deras. Gunung Agung pun terpisah dari sekitarnya. Genangan air itulah yang kemudian di kenal dengan Selat Bali yang memisahkan Pulau Bali dan Pulau Jawa.

148 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Comment