anekadongeng.com Bali Manik Angkeran dan Selat Bali

Manik Angkeran dan Selat Bali

Kebiasaan Buruk

Karena seringnya kalah berjudi, lama-kelamaan, ia mulai mencuri harta benda  ayahnya untuk melunasi hutang-hutangnya. Sidhimantra yang mengetahui perbuatan anaknya berkata, “Anakku, berjudi itu tidak akan bisa membuatmu kaya, justru akan membuatmu semakin miskin. Berhentilah selagi belum terlambat.”

Namun Manik Angkeran tidak peduli. Seiring berjalannya waktu, harta sang ayah pun habis di gunakan untuk membayar hutang. Ia lalu merengek, “Ayah, tolonglah aku. Mereka mengancam akan membunuhku, jika aku tidak bisa membayar hutang.” Sambil menghela nafas ayahnya berkata. Harta mereka sudah tak bersisa. “Apa yang harus kulakukan untuk menolong anakku?” pikirnya. Ia tidak mau anak satu-satunya itu mati sia-sia.

Sidhimantra berdoa memohon petunjuk pada Dewata. “Temuilah Naga Besukih di Gunung Agung. Kemudian mintalah harta secukupnya untuk membayar hutang-hutang anakmu,” kata bisikan gaib itu. Kemudian Sidhimantra pun pergi menuju Gunung Agung seuai petunjuk dari mimpinya untuk menemui Naga Besukih.

Setelah sampai di Gunung Agung, Sidhimantra kemudian memukul genta yang ia bawa seperti petunjuk dalam mimpinya. Naga Besukih yang mendengarnya pun keluar. “Siapa kau? Apa maksud kedatanganmu?” tanya Naga Besukih.

“Aku Sidhimantra. Aku datang kesini bermaksut untuk memohon bantuanmu untuk membayarkan hutang-hutang anakku. Hartaku sudah ia habiskan. Jika aku tidak melunasi hutang-hutangnya, maka anakku akan di bunuh,” jawab Sidhimantra. Setelah merenung sejenak, Naga Besukih pun menyanggupi atas permintaan dari Sidhimantra. Ia lalu masuk ke dalam gua, kemudian keluar dengan membawa beberapa emas dan batu permata. Lalu Sidhimantra berpamitan pulang sambil mengucapkan terima kasih.

Sidhi Mantra menyerahkan semua harta itu pada anaknya. “Pergilah dan lunasi semua hutangmu. Kini kamu bisa memulai hidup yang baru,” kata Sidhimantra. Tetapi Manik Angkeran menggunakan harta yang diberikan ayahnya itu untuk berjudi lagi. Ia terus berjudi hingga harta itu benar-benar terkuras habis. Ia kembali berutang untuk membayar kekalahannya dan kembali di kejar-kejar orang.

Manik Angkeran lalu berkata kepada ayahnya dengan memelas.“Maaf Ayah, uang yang engkau berikan sudah habis semua. Dan sekarang aku kembali berhutang, bahkan jumlah jauh Iebih besar’.

“Aku tak bisa menolongmu lagi. Aku sudah bersusah payah menolongmu, tetapi kamu malah melukai perasaanku,” kata Sidhi Mantra sambil menahan marah.

148 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 Comment