Titik terang Sang Puteri
Ampun Baginda Hamba ingin menyampaikan beberapa informasi untuk Baginda, lapor pengawal itu. Apakah kamu telah mengetahui keberadaan istriku?” tanya Panji Asmarabangun dengan tidak sabar. Ampun Baginda! Hamba hanya menemukan seorang gadis yang minp dengan isti Baginda di sebuah dusun. Namun, hamba belum yakin dia itu istri Baginda, karena ia hanya seorang gadis kampung yang mengabdi kepada seorang janda kaya sebagai pembantu, jelas pengawal itu.
Mendengar laporan itu, sang Pangeran pun memutuskan untuk menyamar menjadi seorang pangeran tampan yang sedang mencari jodoh. Keesokan paginya, berangkatlah sang prabu bersama pengawalnya ke Desa Dadapan yang terletak di dekat Sungai Bengawan Solo, Lamongan. Desa itu berseberangan dengan desa tempat tinggal Kleting Kuning
Di desa tersebut, Panji Asmarabangun mengganti nama menjadi Ande – Ande Lumut dan menetap di rumah seorang janda tua yang bernama Mbok Randa. Beberapa hari kemudian, la pun memerintahkan para pengawalnya agar pengumuman sayembara mencari jodoh itu segera di sebarkan kepada seluruh pelosok desa. Dalam waktu singkat, berita tentang pelaksanaan sayembara itu tersebar hingga ke desa seberang, desa tempat tinggal Kleting Kuning
Betapa senangnya hati Kleting Abang, ljo, dan Biru mendengar kabar itu. Mereka akan berdandan sencantik-cantiknya untuk menaklukkkan hati sang Pangeran Tampan, Ande – Ande Lumut “Asyik. Asyik !! Kita akan berdandan secantik-cantiknya. Kalau salah seorang di antara kita menjadi putri raja, ibu pasti akan senang,” kata Kleting Abang.
Ketika sayembara itu di mulai, Kleting Abang, ljo, dan Biru berdandan dengan sangat mencolok. Mereka memakai pakaian bagus dan perhiasan yang indah. Saat mereka asyik berdandan, Kleting Kuning mendekati. Wah kalian sangat cantik sekali, seru Kleting Kuning, “Hai, Kleting Kuning!
Apakah kamu ingin mengikuti sayembara tanya Kleting Abang. Juga “Ah, tidak mungkin! Baju pun kamu tak punya. Apakah kamu mau ikut sayembara dengan baju seperti itu?” sahut Kleting ijo dengan mencela “Benar, kamu tidak pantas ikut sayembara ini. Lebih baik kamu di rumah mengurus pekerjaanmu.
Burung Bangau
Segera, pergilah ke sungai dan cuci baju-baju kotor itu! seru Kleting Biru sambil menunjuk ke pakaian mereka yang sudah kotor. Kleting Kuning mengumpulkan semua pakaian kotor , lalu segera pergi ke sungai. Sebenarnya, ia tidak tertarik sedikitpun untuk ikut serta dalam sayembara itu, karena ia masih teringat kepada suaminya, Panji Asmarabangun. Ia berjanji akan selalu setia kepada suaminya.
Walaupun ia masih belum mendengar kabar bagaimana keadaan suaminya dalam peperangan itu. Ketika sedang mencuci, tiba-tiba datang seekor burung bangau menghampirinya. Ia terkejut, karena burung tersebut bisa berbicara seperti manusia dan membawa cambuk di cengkeraman kakinya.
