SHUHAIB BIN SINNÂN

Jual belimu telah menguntungkan

Begitu melihat kedatangan Shuhaib, Rasulullah beseru dengan gembira, “Jual belimu telah menguntungkan, wahai Abu Yahya, Jual belimu telah menguntungkan, wahai Abu Yahya.” Saat itu turunlah ayat al-Qur’an:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ ۝٢٠٧

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 207)

Benar, Shuhaib telah membeli jiwanya yang mukmin dengan seluruh kekayaan yang telah ia kumpulkan selama masa mudanya. Kini ia sama sekali tidak merasa rugi.

Apalah artinya harta, emas, dan seluruh dunia jika di bandingkan dengan iman yang ia miliki dan nuraninya yang berkuasa. Tidakkah masa depannya masih terbuka luas?

Rasulullah sangat mencintai Shuhaib. Di samping memiliki sifat wara’ dan takwa, Shuhaib adalah orang yang periang dan humoris. Pada suatu hari Rasulullah melihatnya sedang makan kurma sedang salah satu matanya sedang sakit.

Sambil tersenyum, Rasulullah bertanya kepadanya, “Mengapa engkau memakan kurma sementara sakah satu matamu sakit?” Shuhaib menjawab, “Apa masalahnya? Aku memakannya dengan mata yang lain.”

Shuhaib adalah seorang yang pemurah dan suka memberi. Seluruh gajinya dari Baitul Mal ia nafkahkan di jalan Allah, membantu orang yang membutuhkan, dan menolong orang yang kesusahan; juga memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan dengan sukarela.

Bahkan, kedermawanannya yang luar biasa itu menarik perhatian Umar. Ia berkata, “Aku melihatmu banyak memberikan makan hingga melampaui batas.” Shuhaib pun menjawab, “Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: ‘Orang terbaik di antara kalian adalah orang yang suka memberi makanan’.”

Hendaklah Shuhaib Mengimami Sholat

Meskipun kehidupan Shuhaib penuh dengan keistimewaan dan keagungan, pilihan Umar bin Khaththab terhadapnya untuk menjadi imam kaum Muslimin dalam shalat adalah suatu keistimewaan yang memenuhi hidupnya dengan cahaya dan keagungan.

Ketika Umar di tikam saat sedang menjadi imam dalam shalat subuh bersama kaum muslimin, ia menyampaikan wasiat dan kata-kata terakhir kepada para sahabatnya, “Hendaklah Shuhaib mengimami umat!”

Saat itu Umar telah memilih enam orang sahabat untuk mengurus pemilihan khalifah yang baru. Khalifah kaum Muslimin biasanya adalah orang yang mengimami mereka dalam shalat. Namun, selama masa-masa transisi antara wafatnya Amirul Mukminin dan pemilihan khalifah baru, siapa yang menjadi imam kaum Muslimin dalam shalat?

Tentunya Umar tidak akan sembarang mengambil keputusan, terlebih lagi dalam kondisi demikian ketika ruhnya yang suci hendak menapaki jalan menghadap Allah. la pasti akan berpikir seribu kali sebelum memilih.

Ketika ia telah memilih, tentulah tidak ada seorang pun yang lebih layak daripada orang yang di pilihnya itu. Umar telah memilih Shuhaib. la memilihnya untuk menjadi imam kaum Muslimin dalam shalat sampai khalifah yang baru mulai menjalankan tugas-tugasnya.

Umar telah memilihnya, tentunya bukan karena ia tidak tahu bahwa lidah Shuhaib adalah lidah asing. Sungguh peristiwa ini merupakan salah satu nikmat dan karunia Allah yang paling sempurna bagi hamba-Nya yang saleh: Shuhaib bin Sinnan.

73 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *