Keberanian Shuhaib
Suatu gambaran keistimewaan iman yang tiada duanya dan kesetiaan yang begitu tinggi. Shuhaib memang pantas memiliki iman yang tinggi semacam itu sejak hari ketika ia menyambut cahaya Allah dan berjabat tangan dengan Rasulullah.
Saat itu hubungannya dengan manusia, dengan dunia, bahkan dengan di rinya sendiri mulai memiliki karakter baru. Semenjak itu merasuklah jiwa yang kukuh, zuhud, dan ulet pada di rinya. Dengan bekal tersebut, ia sambut berbagai macam peristiwa dan segala macam ujian hidup hingga mampu kemudian menundukkannya.
Shuhaib pun terus maju seperti telah kami singgung sebelumnya, menghadapi segala tugas dengan keberanian yang luar biasa. Ia tidak pernah mundur dari suatu pertempuran maupun berbagai ancaman bahaya. Kecintaannya dari menumpuk keuntungan di alihkan pada mengemban tanggung jawab, dari menikmati kehidupan pada mengarungi bahaya dan mendambakan maut.
Hari-hari pengorbanan yang mulia dan kesetiaannya yang agung itu di mulai pada saat hijrahnya. Pada hari itu ia tinggalkan seluruh kekayaan dan emas yang di hasilkan dari perdagangannya yang sukses selama bertahun-tahun tinggal di Mekah.
Seluruh kekayaannya itu ia lepas dalam sekejap saja tanpa banyak pertimbangan, padahal itulah satu-satunya harta yang ia miliki ketika itu.
Ketika Rasulullah berniat untuk hijrah, Shuhaib pun mengetahuinya. Menurut rencana, sudah seharusnya ia menjadi orang ketiga dalam hijrah tersebut: Rasulullah, Abu Bakar, dan Shuhaib. Namun, kaum Quraisy pada malam harinya berusaha keras untuk menghalangi hijrah Rasulullah.
Shuhaib masuk dalam jebakan mereka sehingga tertunda untuk hijrah sementara waktu, sedangkan Rasulullah dan sahabatnya (Abu Bakar) berhasil meloloskan diri dan menempuh perjalanan di bawah naungan berkah Allah.
Shuhaib berusaha mencari cara hingga berhasil melepaskan diri dari orang. orang Quraisy yang jahat. la segera melompat ke atas punggung untanya dan dengan langkah cepat, ia segera memacu tunggangannya itu sekencang-kencangnya menuju padang pasir yang luas.
Memburu Shuhaib Bin Sinnan
Namun, kaum Quraisy pun tidak tinggal diam mengetahui hal itu. Mereka segera mengirim para pemburu untuk menyusul Shuhaib hingga usaha itu pun hampir berhasil. Begitu melihat dan menghadapi mereka dari dekat,
Shuhaib berteriak, “Wahai kaum Quraisy, kalian tahu bahwa aku adalah orang yang paling pandai memanah di antara kalian. Demi Allah, kalian tidak akan menyentuh diriku sebelum aku lepaskan seluruh anak panah yang kubawa dalam kantongku ini.
Setelah itu, aku akan tebas kalian dengan pedangku hingga tidak ada sesuatu pun di tanganku. Nah, majulah jika kalian berani! Namun, jika kalian mau, ambillah harta bendaku dan biarkan aku bebas!”
Para pemburu itu lebih menghargai nyawa mereka dan menerima untuk mengambil harta benda Shuhaib sebagai imbalan di rinya. Mereka berkata, “Dahulu engkau datang kepada kami sebagai seorang fakir dan miskin.
Namun, kini engkau telah menjadi orang kaya di tengah-tengah kami dengan harta yang melimpah ruah. Apakah sekarang engkau akan pergi dengan membawa nyawa dan hartamu?”
Shuhaib akhirnya memberitahukan mereka tempat ia sembunyikan harta kekayaannya. Sebagai gantinya, orang-orang Quraisy pun membiarkannya bebas lalu berbalik pulang menuju Mekah.
Sungguh aneh sikap orang-orang Quraisy itu yang serta merta percaya pada ucapan Shuhaib, tanpa ragu dan curiga sedikit pun. Mereka tidak meminta suatu bukti, bahkan tidak meminta Shuhaib untuk bersumpah demi membuktikan kejujurannya.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa Shuhaib di mata mereka memiliki kedudukan yang tinggi sebagai orang yang jujur dan tepercaya.
Kini Shuhaib telah memulai perjalanan hijrah seorang diri dengan gembira. Akhirnya, ia berhasil menyusul Rasulullah di Quba. Saat itu, ketika Shuhaib muncul, Rasulullah sedang duduk bersama beberapa orang sahabat.
