anekadongeng.com dongeng nusantara Gadis Durhaka Dan Batu Menangis

Gadis Durhaka Dan Batu Menangis

Gadis Durhaka

Di antara para lelaki muda yang melihatnya itu, tiba-tiba seorang pemuda berjalan mendeka dan bertanya kepada gadis tersebut, “Wahai, gadis yang cantik. Apakah yang berjalan di belakang itu ibumu?”

Namun, apa jawaban anak gadis itu ?

“Bukan,” katanya dengan angkuh. “Ia adalah pembantuku !” 

Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tidak beberapa jauh dari tempat tadi, datang lagi seorang pemuda untuk mendekati gadis tersebut sambil bertanya.

“Hai, manis. Apakah yang berjalan di belakangmu itu ibumu?” “Bukan, bukan,” dengan ketus gadis tersebut menjawab sambil mendongakkan kepalanya sombong. ” Ia adalah budakku!”

Begitu seterusnya, setiap kali ada pemuda yang menanyakan hal itu , ia selalu  menjawab dengan jawaban seperti itu. Ibunya di perlakukan sebagai pembantu atau budaknya.

Pada awalnya ketika mendengar jawaban sang putri jika di tanya orang seperti itu, si ibu masih bisa menahan diri untuk tidak marah. Namun setelah jawaban tersebut di dengarkan berulang kali, itu membuat perasaaan ibu tersebut terluka dan sakit hati. Pada akhirnya dengan menahan perasaan sakit di hatinya, si ibu pun berdoa kepada Tuhan YME. 

“Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak semata wayang hamba begitu tega memperlakukan  hamba dengan sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini ! Hukumlah dia….”

Akhirnya doa ibu tersebut di kabulkan dan atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, tampak perubahan pada tubuh gadis durhaka itu perlahan-lahan berubah menjadi batu. Perubahan tersebut di mulai dari kakinya. Dan ketika perubahan tersebut mencapai setengah badannya, gadis tersebut menangis dan memohon ampun kepada ibunya. 

” Oh, Ibu..ibu..ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu…Ibu…tolong ampunilah anakmu..” Anak gadis tersebut terus menagis dan meratap memohon ampun kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya telah terlambat.

Pada akhirnya seluruh tubuh gadis itu pun berubah menjadi batu. Meskipun telah menjadi batu, tetapi orang-orang masih melihat bahwa kedua belah matanya masih meneteskan mata, seperti orang yang sedang menangis. Oleh sebab itu, batu yang berasal dari kutukan seorang ibu kepada anaknya yang durhaka itu di sebut ” Batu Menangis “. 

Demikianlah cerita legenda batu menangis, yang di percaya sebagian besar masyarakat setempat bahwa kisah tersebut benar-benar pernah terjadi.

86 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *