Harapan Mande Rubayah yang ingin bertemu dengan anaknya terkabul. Beberapa waktu setelah pernikahannya, Malin bersama istri dan pengawalnya akhirnya melakukan pelayaran. Saat Ibu Malin Kundang melihat kedatangan kapal besar di dermaga, ia juga melihat 2 orang yang berpakaian indah berdiri di geladak kapal. la yakin sekali bahwa yang sedang berdiri itu adalah anak yang ditunggu-tunggu selama ini yaitu Malin Kundang dan istrinya.
Dan setelah kapal bersandar di dermaga, ibu Malin bergegas menuju kapal tersebut. Malin pun turun dari kapal dan ibunya ikut berdesakan dengan orang lain yang juga ingin melihat pasangan kaya tersebut. Setelah semakin dekat, sang ibu pun melihat bekas luka di lengan kanan pemuda tersebut.
Anak Durhaka
Sehingga sang ibu semakin yakin bahwa pemuda itu adalah Malin anaknya. Ibunya pun langsung memeluk sang pemuda tersebut, sambil berkata “Malin anakku… kenapa engkau pergi begitu lama dan tanpa mengirimkan kabar ke ibu?”. Malin kundang terkejut melihat wanita tua berpakaian kotor dan compang-camping tiba-tiba memeluknya. Malin pu marah, karena seinggat nya, ibunya adalah wanita kuat dan badanya tegar serta mampu menggendong Malin kemana saja ia mau.
Saat Malin belum bisa berpikir dengan tenang,istrinya lalu berkata, “Wanita miskin inikah ibumu? Mengapa engkau mendustai aku?”. “Bukankah dulu kamu mengatakan bahwa ibumu adalah bangsawan yang sederajat dengan kami?” hardik sang istri. Mendengar perkataan istrinya, Malin pun semakin marah karena kalau ia mengakuinya ia akan malu kepada istri dan anak buahnya.
Sambil marah malin melepaskan pelukan ibunya, kemudian mendorongya hingga terjatuh. “Kamu siapa,dasar wanita tidak tahu diri, jangan sembarangan mengaku sebagai ibuku”, bentak Malin kepada ibunya. Dan Wanita tersebut jatuh terduduk di atas pasir kemudian berkata lagi, Malin… Malin… aku benar-benar ibumu… Ketika melihat wanita tua itu hendak memeluk kakinya, Malin langsung menendangnya sambil berkata, “Hai, wanita tua !!, Ibuku tidak mungkin melarat, bau dan dekil sepertimu”.
“Wanita tua itu ibumu ?”, tanya sang istri sekali lagi. “Bukan, ia hanya berpura-pura sebagai Ibuku agar bisa mendapatkan harta dari ku”, dengan menjawab begitu kepada istrinya, Malin pun berjalan menjauhi Ibunya.
Batu Kutukan
Mendengar perkataan Malin hatinya pedih bagaikan di tusuk- tusuk. Kemudian sang ibu menengadahkan tangan ke langit sambil berdoa dengan berlinan air mata. ” Ya Allah Yang Maha Mengetahui, apabila dia bukan anakku, maka aku telah memaafkan semua perbuatannya. Tetapi jika dia benar-benar anakku, aku mohon berikan aku keadilan dari Mu, Ya Allah…Jadikanlah Malin Kundang menjadi batu”.
Beberapa saat setelah doa di panjatkan olen sang ibu, cuaca di sekitar laut mendadak berubah menjadi gelap dan hujan turun dengan sangat deras. Badai pun datang dan langsung menghantam kapal yang di tumpangi Malin beserta rombongannya. Petir juga menyambar kapal hingga hancur berkeping-keping. Orang-orang yang sebelumnya berjumpul di dermaga berlarian untuk menyelamatkan diri. Dan perlahan-lahan terlihat tubuh Malin berubah kaku dan menjadi keras.
Ketika pagi datang dan badaipun telah berlalu, maka terlihatlah kepingan-kepingan kapal yang telah hancur. Dan tak jauh dari kepingan kapal tersebut, terlihat batu yang menyerupai manusia sedang bersujud. Konon katanya batu itu adalah tubuh Malin Kundang yang di kutuk, karena durhaka kepada ibunya.
Demikianlah dongeng Malin kundang yang masih menjadi legenda hingga saat ini, semoga kita bisa mengambil hikmahnya dan tidak menjadi seorang anak yang durhaka terhadap orang tuanya.
