Pesta perkawinanpun antara ayah Bawang Putih dan Mbok Randha di gelar secara sederhana. Banyak para tetangga yang ikut hadir dalam acara pernikahan itu, Bawang Putih menyambut para tamu dengan ceria Tidak sebaliknya dengan Bawang Merah anak dari Mbok Randha.
Setelah menikah, Mbok Randha bersama putrinya tinggal di rumah Bawang Putih. Pada awalnya, Mbok Randha dan Bawang Merah sangat baik kepada Bawang Putih, terutama ketika ayahnya ada di rumah. Namun, setelah beberapa lama tinggal di rumah itu sifat asli mereka yang kejam dan bengis mulai kelihatan. Di saat sang ayah sedang pergi berdagang, mereka sering memarahi Bawang Putih dan memberinya pekerjaan berat.
Awal Kesengsaraan
Bahkan. Mbok Randha tidak segan-segan menampar Bawang Putih jika sedang beristirahat barang sejenak pun untuk melepaskan lelah. Tidak hanya itu, setiap hari Bawang Putih hanya di perbolehkan makan sekali, itu pun berupa kerak nasi dengan air dan garam sebagai lauk.
Di sisi lain, Mbok Randha amat sayang dan memanjakan Bawang Merah sehingga semua pekerjaan rumah tangga di bebankan kepada Bawang Putih. Bahkan, Bawang Merah juga kerap memerintahnya. Pada saat Bawang Putih sibuk bekerja, Bawang Merah dan ibunya hanya duduk santai. Sesekali mengawasi hasil pekerjaan Bawang Putih jika ada yang kurang beres. Meskipun di perlakukan dengan tidak adil, Bawang Putih tetap tabah menghadapinya.
Suatu hari, ayah Bawang Putih menderita sakit dan pada akhirnya meninggal dunia. Sejak saat itulah, Bawang Merah dan ibunya semakin kejam dan semena-mena kepada Bawang Putih. Setiap hari,ia harus bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan segala keperluan mereka. Mulai dari menyiapkan air mandi, menyiapkan sarapan untuk mereka, memberi makan ternak, membersihkan dan menata rumah, mencuci pakaian di sungai, dan pekerjaan rumah tangga lainnya.
Pada suatu hari, setelah selesai membereskan rumah, Bawang Putih berangkat ke sungai dengan membawa satu keranjang pakaian kotor untuk dicuci. Ketika tiba di sungai, ia pun mulai mencuci pakaian satu persatu. Tetapi,Bawang Putih tidak sadar bahwa ada salah satu pakaian yang di cucinya hanyut terbawa arus. Celakanya, pakaian yang hanyut tersebut merupakan baju kesayangan Bawang Merah. Ia baru sadar bajunya tidak ada ketika selesai mencuci. Dengan panik, Putih segera menyusuri sungai untuk mencari baju itu. Sudah jauh mencari sampai ke hilir, tetapi baju tersebut belum di temukan.
“Aduh, matilah aku!” Bawang Putih berkata dengan cemas, “Apa jadinya kalau Bawang Merah dan Ibu tiriku mengetahui hal ini?”
Bawang Putih benar-benar kebingungan. Ketika hari sudah siang, ia pun beranjak pulang karena belum menyiapkan makan siang. Ketika tiba di rumah, ia menceritakan kejadian yang di alaminya dengan ketakutan. Betapa marahnya Mbok Randha saat mendengarkan cerita itu. Lalu ia pun mengambil rotan dan memukuli Bawang Putih sampai tubuhnya lebam.

Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.