5. Kaderisasi
Sunan Ampel sangat memperhatikan kaderisasi. Di Buktikan dengan putra dan santri-santri beliau menjadi tokoh Islam terkemuka. Dari perkawinan beliau dengan Nyai Ageng Manila, Sunan Ampel di karuniai enam anak. Di antaranya ada dua menjadi wali, yaitu : Sunan Bonang (Makdum Ibrahim) dan Sunan Drajat (Raden Qosim). Satu orang putri beliau yang bernama Asyikah, di nikahkan dengan muridnya yang bernama Raden Patah. Yang kelak menjadi Raja pertama kesultanan Demak. Sedangkan, dua putri beliau dari istri yang bernama Nyai Karimah, di nikahkan dengan dua murid-muridnya yang juga wali. Yaitu Dewi Murtasiah, di nikahkan dengan Sunan Giri, dan Dewi Mursimah, di nikahkan dengan Sunan Kalijaga.
Sunan Ampel sudah terbiasa berbeda pendapat dengan putra, murid dan menantunya yang juga para wali. Di dalam menyikapi adat, Sunan Ampel lebih puritan ketimbang Sunan Kalijaga. Pada suatu saat Sunan Kalijaga menawarkan untuk dakwah mengislamkan adat sesajen, selamatan, wayang, dan musik gamelan. Tetapi Sunan Ampel menolak dengan halus.
“Apakah kamu tidak khawatir kelak adat tersebut akan di anggap berasal dari Islam?” kata Sunan Ampel. “Nanti bisa menimbulkan bid’ah, dan agama Islam tak murni lagi.” Pandangan umum Sunan Ampel di dukung Sunan Giri dan Sunan Drajat. Sementara itu Sunan Kudus dan Sunan Bonang menyetujui usulan Sunan Kalijaga. Kemudian Sunan Kudus membuat dua kategori yaitu, adat yang kemungkinan bisa di masuki Islam, dan yang tidak bisa sama sekali.
Hal ini mirip dengan perdebatan dalam maslah ushul fiqih: apakah adat bisa di jadikan sumber hukum Islam atau tidak. Meskipun demikian, perbedaan pendapat itu tidak mengganggu silaturahmi antar para wali. Sunan Ampel memang di kenal sangat bijak mengelola perbedaan pendapat. Karena itu, sepeninggal Maulana Malik Ibrahim, ia di angkat menjadi sesepuh Wali Songo dan mufti (juru fatwa) se-tanah Jawa.
6. Para Santrinya
Sebagai seorang pendidik, Raden Rahmat mempunyai beberapa murid, di antara murid-muridnya yang terkenal itu ialah:
- Raden Patah (Raja Demak yang pertama)
- Sunan Giri (Raden Paku)
- Sunan Bonang (Raden Makhdum Ibrahim) 4. Sunan Drajat (Raden Qasim)
- Sunan Kalijaga (Raden Syahid)
- Raden Bathoro Kolong (Adipati Ponorogo pertama) 7. Mbah Soleh (tukang sapu masjid Ampel)
- Mbah Sonhaji (pengatur arah kiblat masjid Ampel)
Itulah di antara murid-murid Raden Rahmat (Sunan Ampel) yang terkenal. Dan di antara murid-murid beliau banyak yang menjadi wali di samping memiliki karomah yang tinggi.
