Sunan Ampel

3. Mendirikan Pondok Pesantren

Sejak saat itu, gelar pangeran dan raden melekat di depan beliau. Raden Rahmat di perlakukan sebagai keluarga keraton Majapahit. Ia pun makin di segani masyarakat. Pada hari yang sudah di tentukan, berangkatlah rombongan Raden Rahmat menuju Ampel. Berangkat dari Trowulan, kemudian  melewati Desa Krian, Wonokromo, dan ke Desa Kembang Kuning. Di sepanjang jalan menuju Ampel tersebut , Raden Rahmat terus berdakwah.

la membagi-bagikan kipas yang terbuat dari akar tumbuhan kepada penduduk. Mereka cukup membayari kipas itu dengan membaca syahadat. Pengikutnya pun bertambah banyak. Sebelum tiba di Ampel, Raden Rahmat membangun langgar (mushala) sederhana di Kembang Kuning, delapan kilometer dari Ampel.

Langgar ini kemudian berkembang  menjadi besar dan  megah, serta  bertahan sampai dengan sekarang dan di beri nama Masjid Rahmat. Ketika sampai di Ampel, pertama kali yang di lakukan Raden Rahmat adalah membangun sebuah masjid sebagai pusat ibadah dan sarana berdakwah. Kemudian ia membangun pesantren, mengikuti model Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Konsep  pesantren yang di bangun  mirip biara yang sudah di kenal oleh masyarakat Jawa.

Raden Rahmat memang di kenal memiliki kepekaan adaptasi. Cara beliau dalam menanamkan akidah dan syariat sangat memelihat  kondisi dari masyarakat. Kata “salat” di ganti dengan “sembahyang” (asalnya: sembah dan hyang). Tempat ibadahpun tidak di namai musala, tetapi “langgar”, mirip dengan kata sanggar. Murid penuntut ilmu di sebut dengan kata santri, yang berasal dari kata shastri, yang berarti orang yang mengerti buku suci agama Hindu.

Bangsawan maupun  rakyat jelata, di perbolehkan nyantri pada Raden Rahmat. Meskipun menganut mazhab Hanafi, Raden Rahmat tetap toleran dengan para penganut mazhab lain. Santrinya di bebaskan ikut mazhab apa saja. Dengan cara pandang yang  netral itu, pendidikan di wilayah Ampel mendapat simpati dari kalangan luas. Dari sinilah sebutan “Sunan Ampel” mulai populer.

4. Ajaran Sunan Ampel

Ajarannya yang terkenal adalah falsafah “Moh Limo”. Artinya: tidak melakukan lima hal tercela. Adapun lima perkara maksiat itu adalah:

  • Moh main, yakni main judi

Berjudi, bagi yang mengalami kekalahan akan menimbulkan  niat  untuk mencuri dan merampok. Sedang yang menang akan menghambur-hamburkan uang kemenangannya.

  • Moh Minum, yakni minum minuman keras.

Minum-minuman keras, maka akan berakibat hilang ingatan. Karena banyak orang  terjerumus kelembah dosa karena mengalami hilang ingatan

  • Moh Maling, yakni mengambil barang orang lain

Mencuri, di mana mencuri akan merugikan orang lain lebih-lebih barang yang di curi milik orang-orang miskin.

  • Moh Madat, yakni minum/menghisap ganja atau morfin

Menghisap ganja atau morfin, akan mengakibatkan malas kerja, badan kurus, nafsu makan berkurang dan akan timbul pemborosan karena mahalnya harga ganja/morfin itu.

  • Moh Madon, yakni berzina dengan wanita lain.

Berzina, di mana berzina dapat menghapuskan keturunan. Lebih-lebih bila berzina dengan wanita pelacur, maka akibatnya lebih fatal lagi, yaitu bisa terjangkit penyakkit kelamin spilis, dan yang berbahaya lagi penyakit Aids.

Demikian ajaran Raden Rahmat kepada murid-muridnya dan dengan ajaran Raden Rahmat itu, Raja Brawijaya merasa senang di samping beliau memiliki budi pekerti yang mulia.

159 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *