Biwar Sang Penakluk Naga

Munculnya Naga

Namun kedamaian itu pecah seketika dari kedalaman air, seekor naga raksasa tiba-tiba melesat keluar. Dengan raungan memekakkan telinga dan sekali libasan dahsyat, naga itu menghantam perahu mengubahnya menjadi serpihan kayu yang berterbangan. 

Semua orang terlempar tenggelam dalam pusaran air yang bergejolak. Hanya ayah dan ibu biwar yang berhasil bertahan berpegangan pada sisa-sisa perahu yang hancur. Ayah biwar mati-matian melindungi istrinya dari cengkraman sang naga. 

Ajaibnya, di tengah kekacauan itu mereka berhasil lolos dari serangan brutal dan berjuang menepi kedaratan. Mereka berlari menjauhi sungai berharap bisa menjauh dari makhluk mengerikan itu. Namun harapan itu sirna, sang naga tak hanya lincah di dalam air tapi mampu terbang di udara. 

Tanpa pilihan lain diambang keputus asaan, ayah biwar mengambil keputusan paling berat. Dia mengorbankan dirinya menjadi umpan bagi sang naga. Demi memberi kesempatan ibu biwar lari masuk ke dalam hutan. Ibu biwar terus berlari, nafasnya terengah-engah. 

Dia menembus belantara hutan yang lebat, menjauh dari rauh naga itu. Setelah berlari cukup jauh, suara mengerikan itu akhirnya lenyap. Saat senja tiba, dan malam mulai datang, Ibu biwar dalam keadaan hamil mendapati dirinya kebingungan sendirian tanpa tempat berlindung. 

Di tengah keputus asaannya, dia melihat sebuah goa. Tanpa berpikir panjang  Ibu biwar segera masuk ke dalam goa itu mencari keamanan dari ancaman binatang hutan dan kegelapan malam. Di dalam goa yang dingin dan sunyi Ibu biwar berjuang mempertahankan hidupnya dan calon bayinya. 

Dia mencari apapun yang bisa dimakan daun-daun muda dan umbi-umbian untuk bisa bertahan hidup. Hingga tibalah waktu dimana Ibu biwar harus berjuang untuk melahirkan bayinya. Dia mengerahkan setiap sisa tenaga. 

Tak ada siapapun di sisinya. Beberapa waktu kemudian tangisan pertama Biwar memecah keheningan goa sebuah suara kehidupan baru. 

“jadi begitulah ceritanya nak !” 

Rencana balas dendam

“Mama, saya akan membalas kematian papa ! Kalau naga itu tetap dibiarkan hidup, kita tak akan bisa pulang ke kampung ?”

“Sudahlah ! Jangan begitu. Batalkan saja niatmu. Di sini kita sudah aman. Tak perlu kau berbuat susah-susah lagi.”

“Mama, kau tak rindu kah pulang kampung ?”

“Iya, Mama juga mau. Tapi Mama tak mau kehilangan kau. Kau itu satu-satunya semangat Mama.”

“Mama, kenapa ragu begitu?” 

“Itu naga, Dia sangat ganas nak !”

“Tapi Mama sudah mengajari saya banyak ilmu. Dengan ilmu itu, saya bisa menghabisinya!”

Keesokan paginya, sebelum fajar menyingsing, tekad biwar sudah membara. Tanpa membangunkan sang ibu Biwar menyiapkan senjatanya berupa tombak yang diukir sendiri dan beberapa busur panah berujung tajam. 

Setiap gerakan biwar penuh dengan kekuatan,  matanya memancarkan keberanian dan tekad yang tak tergoyahkan. Dengan langkah mantap, Biwar keluar dari goa. Ia bukan lagi mencari ikan atau umbi. Kali ini, misinya jelas dan penuh bahaya. 

Dia pergi mencari keberadaan sang naga yang bersembunyi di sekitar sungai tempat dimana hidup ayahnya berakhir. 

Tiba lah Biwar di sekitar sungai. Dengan gagah berani dia menantang naga itu agar keluar dari air. 

Pertempuran

“Hei naga! Keluar kau sekarang! Aku datang untuk menghabisimu !” 

Air sungai yang semula tenang tiba-tiba bergejolak, dan munculah seekor naga di depan Biwar. 

Tanpa ragu Biwar menyerang sang naga. Tombak pun melesat. Disusul anak panah yang menghujani tubuh naga. 

Namun sia-sia, senjata Biwar belum mampu melemahkan sang naga. Naga itu membalas dengan semburan api ke arah Biwar. Namun dengan kelincahannya, Biwar berhasil menghindar melompat menjauh dari semburan api. 

Sadar senjatanya tak mempan untuk melawan sang naga, Biwar akhirnya mencari cara lain untuk mengalahkan naga tersebut. Sambil terus menghindari semburan api panas yang mematikan dan nyaris membakar tubuhnya. 

Biwar tak lagi menyerang namun berlari sekuat tenaga menuju sebuah tebing curam di tepi sungai. 

Sang naga mengumpulkan seluruh kekuatannya. Mulutnya menganga lebar, api berkobar di dalam bersiap melontarkan semburan yang bisa meluluh lantakan segalanya. 

Namun di atas tebing, Biwar bergerak lebih cepat. Dia mengerahkan seluruh sisa tenaganya mendorong bongkahan batu raksasa yang berada di tempat itu. Batu itu meluncur menghantam kepala sang naga. Seketika sang naga roboh tak berdaya, tubuh besarnya hanyut terbawa arus sungai yang deras. 

Biwar terengah-engah berdiri di puncak tebing. Ia telah berhasil menghabisi sang naga. Dia kemudian pulang untuk memberitahukan keberhasilannya kepada sang ibu. Ibu biwar yang sedari tadi menunggu sambil berdoapun menangis bahagia melihat anaknya kembali dengan selamat. 

Pulang ke kampung halaman

Tidak hanya pulang dengan selamat, Biwar juga membawa kabar jika naga penghuni sungai telah dia kalahkan. Setelah sungai aman dari ancaman naga, Biwar di suruh ibunya untuk membuat perahu, agar bisa kembali ke kampung halaman. 

Hari demi hari, dia bekerja tanpa lelah. Sampai pada akhirnya sebuah perahu kecil telah selesai dibuat. Perahu itu cukup kuat untuk membawa Biwar dan ibunya. 

Pada keesokan harinya, Biwar dan sang ibu menyusuri sungai menuju kampung halaman yang telah lama mereka tinggalkan. Saat perahu merapat di tepian desa, seluruh penduduk kampung berhamburan menyabut Biwar dan ibunya. Mereka telah mendengar kabar tentang kekalahan naga tersebut. 

Mereka takjub dengan keberanian Biwar dan menganggapnya sebagai pahlawan. Para penduduk menjulukinya Biwar sang penakluk naga.

116 Likes

Author: wijaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 Comment